BAB I
Kota yang Tidak Pernah Tidur
Berlin tidak menyambut kami dengan suara.Ia menyambut dengan diam.
Pesawat mendarat pelan di Bandara Tegel pada pagi yang kelabu, tahun 1972. Dari balik jendela kecil, aku melihat landasan basah, kabut menggantung rendah, dan barisan lampu yang menyala meski matahari sudah terbit. Dunia tampak seperti menahan napas.
Aku delapan tahun.
Usia di mana seorang anak seharusnya percaya bahwa kota adalah tempat bermain, bukan tempat menyimpan rahasia.
Ayah berdiri lebih tegak dari biasanya. Mantel hitamnya rapi, kancing tertutup sampai leher. Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan, juga tidak cemas—hanya siap. Seperti seorang pria yang tahu bahwa setiap kata bisa menjadi kesalahan.
“Selamat datang di Berlin,” katanya singkat.
Ibuku menggenggam tanganku. Tangannya dingin, meski ia tersenyum. Senyum ibu selalu seperti itu sejak kami berangkat—senyum yang berusaha menenangkan, bukan merayakan.
Di dalam mobil dinas, kota bergerak perlahan melewati jendela: gedung-gedung tinggi, pepohonan tanpa daun, tentara berseragam hijau zaitun berdiri di sudut-sudut tertentu. Tidak banyak orang berjalan kaki. Tidak ada suara klakson yang terburu-buru. Berlin terasa seperti kota yang berbisik pada dirinya sendiri.
Aku menempelkan dahi ke kaca jendela.
“Ayah,” tanyaku, “kenapa kota ini seperti menunggu sesuatu?”
Ayah tidak langsung menjawab.
“Karena di Berlin,” katanya akhirnya, “tidak semua hal sudah selesai.”
Aku tidak mengerti. Tapi aku mengangguk.
Rumah dinas kami berada di Berlin Barat, di kawasan yang tertata rapi dan terlalu tenang. Halamannya luas, pohonnya tinggi, dan pagar besinya dicat hitam mengilap. Dari luar, rumah itu tampak seperti rumah keluarga bahagia di buku cerita. Dari dalam, ia terasa seperti tempat singgah—bukan rumah.
Kamarku berada di lantai dua. Jendelanya besar, menghadap ke arah timur. Ayah bilang itu kebetulan. Tapi malam pertama, aku tahu arah itu bukan sekadar arah mata angin.
Malam pertama di Berlin, aku tidak bisa tidur.
Bukan karena jet lag.
Bukan karena rindu.
Melainkan karena cahaya.
Lampu putih menyapu jendela kamarku perlahan. Terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Terlalu dingin untuk disebut terang biasa. Cahaya itu datang, berhenti sesaat, lalu pergi.
Seperti seseorang yang memastikan aku ada.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mengintip ke luar. Di kejauhan, jauh melampaui pepohonan dan bangunan, aku melihat garis gelap yang memanjang lurus, seolah mengiris kota.
Aku belum tahu namanya saat itu.
Tapi tubuhku tahu—
itulah sumber cahaya itu.
Hari-hari pertamaku di Berlin diisi oleh sekolah, bahasa baru, dan senyum-senyum yang tidak pernah sepenuhnya sampai ke mata orang dewasa. Di sekolah internasional, kami duduk rapi di bangku kayu, belajar tentang angka, kata, dan peta dunia.
Pada hari ketiga, guru kami—Frau Schneider—menggambar peta Jerman di papan tulis.
Tangannya gemetar saat menarik garis tebal di tengahnya.
“Ini Berlin Barat,” katanya.
“Dan ini Berlin Timur.”
Seorang anak Amerika mengangkat tangan. “Kenapa dipisah?”
Frau Schneider menatap garis itu lama sekali.
“Karena dunia takut,” katanya pelan.
Ia segera menghapus papan tulis setelah itu, seolah takut garis itu terlalu lama terlihat.
Aku berteman dengan anak bernama Lukas. Ia anak Jerman, tinggal dekat rumahku. Kami bermain sepeda dan saling mengajari kata-kata lucu dalam bahasa masing-masing. Lukas sering tertawa, tapi tawanya cepat berhenti jika kami mendekati arah tertentu.
“Ayah bilang kita tidak boleh ke sana,” katanya suatu sore, menunjuk arah timur.
“Kenapa?”
Lukas mengangkat bahu, tapi matanya berubah.
“Karena tembok itu… tidak suka dilihat.”
Aku tertawa. “Tembok tidak bisa melihat.”
Lukas tidak ikut tertawa.
Malam keempat, aku mendengar suara itu untuk pertama kalinya.
Tok… tok… tok…
Bukan dari pintu.
Bukan dari dinding kamar.
Suara itu datang dari jauh, tapi terasa dekat. Seperti ketukan yang berjalan melewati tanah dan masuk ke kepalaku.
Aku memanggil ibu. Ia datang, duduk di tepi ranjang, mengusap rambutku.
“Itu hanya suara kota,” katanya.
“Tapi kota tidak mengetuk,” jawabku.
Ibu terdiam.
Lalu memelukku lebih erat dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, ayah mengajakku naik mobil.
“Kau harus melihat ini,” katanya.
Kami berhenti jauh dari sebuah bangunan kecil dengan papan bertuliskan Checkpoint Charlie. Tentara berdiri saling berhadapan. Senjata di tangan. Mata lurus ke depan.
Aku merasakan sesuatu menekan dadaku.
“Ayah,” bisikku, “kenapa mereka berdiri begitu?”
“Supaya tidak ada yang bergerak,” jawabnya.
Aku melihat ke arah seberang. Di balik garis itu, kota tampak lebih gelap. Lebih sunyi. Seolah warna ditarik keluar dari dunia.
“Apakah orang di sana bisa ke sini?” tanyaku.
Ayah menatap lurus ke depan.
“Tidak semua orang.”
Malam itu, aku berdiri lama di depan jendela.
Lampu sorot menyapu lagi.
Cahaya berhenti tepat di arah kamarku.
Aku menahan napas.
Dan untuk sesaat—
aku yakin—
cahaya itu menatap balik.
Di kejauhan, sangat jauh, aku melihat sesuatu bergerak cepat lalu menghilang.
Aku tidak tahu bahwa malam itu Berlin mulai mengenal namaku.
Dan aku belum tahu,
bahwa kota ini
tidak pernah melepaskan
anak-anak yang melihat terlalu banyak.
No comments:
Post a Comment