Sunday, February 1, 2026

IRC, Pertualangan Seru ke 3 dari Jakarta Menuju Ciwidey



Perjalanan Touring IRC: Jakarta – Ciwidey

Pagi itu Jakarta belum sepenuhnya terjaga ketika deru mesin mulai memecah sunyi. Di sebuah titik temu, para rider IRC berdiri berdampingan, jaket hitam berlogo komunitas melekat seperti sumpah setia. Kopi panas, candaan receh, dan pelukan singkat mengiringi doa sebelum roda berputar. Tujuan kami satu: Ciwidey, tanah dingin yang selalu punya cerita.

Keluar dari hiruk-pikuk ibu kota, jalanan mulai bersahabat. Namun touring tak pernah hanya soal aspal mulus. Di tengah perjalanan, hujan turun tanpa aba-aba. Bukan rintik manja, tapi hujan yang menghajar helm dan dada. Visor buram, sarung tangan basah, dan sepatu mulai terasa berat. Ada yang sempat tergelincir kecil, ada motor yang batuk, tapi tak satu pun tertinggal. IRC bukan tentang siapa paling cepat, tapi siapa yang paling setia menunggu.

Di bawah flyover yang sempit, kami berhenti. Tertawa melihat jas hujan yang sobek, saling ejek soal gaya berkendara, sambil menepuk bahu rider yang terlihat paling kuyup. Hujan seolah menguji, tapi justru di sanalah persaudaraan dipanaskan. Satu rokok dibagi dua, satu botol minum berpindah tangan, dan cerita lama kembali hidup.

Memasuki wilayah Bandung Selatan, kabut mulai turun. Jalan berliku, tanjakan panjang, dan udara yang semakin dingin memaksa konsentrasi penuh. Di tikungan Ciwidey, mesin meraung lebih keras, napas mengepul, dan rasa lelah bercampur kagum melihat kebun teh yang terhampar hijau dan sunyi. Saat villa akhirnya terlihat, sorak kecil pecah—bukan karena mewah, tapi karena berhasil.

Malam Ciwidey menusuk tulang. Jaket berlapis masih kalah oleh angin gunung. Saat tidur, drama baru dimulai: selimut jadi barang paling berharga. Ada yang pura-pura sudah tidur duluan, ada yang bangun tengah malam hanya untuk menarik ujung selimut. Tawa tertahan di balik gelap, gigi gemeretak, dan akhirnya tidur berdesakan jadi solusi paling jujur.

Namun dingin tak mematikan hangat. Di ruang tengah villa, gitar dipetik seadanya, lagu lama dinyanyikan tanpa nada sempurna. Ada yang berjoget kaku, ada yang tertawa sampai air mata keluar. Hujan kembali turun di luar, tapi di dalam, kami menari, bernyanyi, dan melupakan lelah. Malam itu Ciwidey menjadi saksi: IRC bukan sekadar touring, melainkan perjalanan pulang—kepada tawa, solidaritas, dan persaudaraan.

Dan saat pagi datang, kami tahu satu hal: cerita ini akan selalu kami ulang, setiap kali mesin dinyalakan.

No comments:

Post a Comment