Tuesday, February 3, 2026

IRC Petualang Seru Ciwidey Episode 2


Malam itu belum selesai. Justru baru benar-benar dimulai.

Ketika jarum jam melewati angka sepuluh, satu per satu rider keluar dari kamar, sebagian masih menggigil, sebagian sudah menyerah pada dingin dan memilih hoodie berlapis jaket. Delapan puluh rider IRC akhirnya berkumpul di ruang utama villa. Ruangan yang awalnya terasa besar, mendadak jadi sempit oleh tawa, tubuh-tubuh lelah, dan energi yang tak habis-habis meski perjalanan panjang sudah dilalui.

Seseorang menaikkan volume speaker. Lagu pertama diputar—bukan lagu baru, tapi lagu lama yang entah kenapa selalu berhasil menyatukan suara-suara fals. Dalam hitungan detik, ruangan berubah jadi panggung bebas. Ada yang bernyanyi sambil menutup mata penuh penghayatan, ada yang teriak-teriak lirik asal, ada pula yang hanya menepuk-nepuk meja mengikuti irama. Tak ada yang peduli suara siapa paling bagus. Yang penting berani bersuara.

Joget dimulai tanpa aba-aba. Gaya bebas. Gaya patah-patah. Gaya sok profesional. Ada rider yang tubuhnya kaku seperti robot karatan, tapi justru itu yang paling ditunggu. Tawa pecah setiap kali gerakan aneh muncul. Kamera ponsel merekam, bukan untuk pamer, tapi untuk bahan kenangan dan ejekan manis di kemudian hari.

Lalu muncullah sesi yang paling ditunggu: kuis malam IRC. Aturannya sederhana, hadiahnya receh, tapi hukumannya mematikan—menyanyi solo, berjoget di tengah lingkaran, atau menyebutkan nama mantan tanpa berpikir lama. Pertanyaan dilempar, jawaban ngawur muncul, dan setiap kesalahan disambut sorakan. Ada yang pura-pura tak dengar, ada yang pasrah sambil tertawa, ada pula yang terlalu jujur hingga satu ruangan meledak oleh tawa.

Di sela-sela itu, kopi panas terus diseduh. Gelas berpindah tangan. Obrolan kecil tumbuh di sudut-sudut ruangan: cerita jatuh motor dulu, kisah touring gagal, mimpi besar komunitas, sampai keluhan lutut yang mulai protes usia. Malam membuat semua jadi jujur. Tak ada jabatan, tak ada siapa paling senior—yang ada hanya rider yang sama-sama capek tapi bahagia.

Sekitar tengah malam, hujan kembali turun. Suaranya mengetuk atap villa seperti irama tambahan. Beberapa rider keluar ke teras, menghisap rokok sambil memandangi gelap Ciwidey. Udara dingin menusuk, tapi percakapan menghangatkan. Ada tawa pelan, ada diam panjang, ada rasa syukur yang tak diucap tapi terasa.

Saat lagu terakhir dinyanyikan, suara mulai serak, kaki mulai berat. Satu per satu tumbang ke sofa, lantai, bahkan karpet tipis. Tapi sebelum tidur benar-benar menang, seseorang berseru,
“Besok cerita ini bakal kita ulang terus, ya!”

Dan semua tahu itu bukan janji kosong.

Karena malam itu, di villa dingin Ciwidey, 80 rider bukan sekadar rombongan touring. Mereka adalah keluarga sementara yang tercipta dari hujan, jalan panjang, tawa, dan kebersamaan. Sebuah malam yang akan hidup terus—setiap kali nama IRC disebut, dan setiap kali mesin kembali dipanaskan untuk perjalanan berikutnya.

No comments:

Post a Comment