Bab 1 – Nama di Batu Nisan
Jakarta, 2025. Hujan deras membasahi batu nisan di pemakaman Tanah Kusir. Di atas pusara itu tertulis:
**RAYHAN PRATAMA
1992 – 2025
“Darah keluarga tak pernah kering”**
Arga berdiri di belakang kerumunan hitam-payung, jaket kulitnya basah kuyup. Dia tidak menangis. Matanya hanya dingin menatap nama kakaknya yang baru saja dikubur.
Di sampingnya, seorang pria tua berjas Armani hitam mendekat. Rambutnya sudah memutih, tapi tatapannya masih tajam seperti pisau karambit.
“Arga,” suara rendah itu bergetar pelan. “Sekarang giliranmu.”
Arga menoleh. Itu Pak Tua – nama asli hampir tak ada orang yang tahu – pemimpin tertinggi **Serigala Hitam**, sindikat yang menguasai 40% peredaran metamfetamin dan judi online di pulau Jawa.
“Kakakku mati karena peluru dari dalam, Pak. Bukan polisi, bukan kartel Medan. Dari dalam.”
Pak Tua menghela napas panjang.
“Aku tahu. Dan aku tahu siapa pelakunya.”
Arga mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih.
“Siapa?”
“Adikmu sendiri. Dito.”
Saat itu juga dunia Arga terasa seperti kaca yang dihantam palu godam.
**Bab 2 – Dua Saudara, Satu Tahta**
Dito Pratama, 27 tahun, selalu disebut “yang cerdas”. Kuliah S2 di Singapura, fasih empat bahasa, bisa membaca laporan keuangan lebih cepat daripada kebanyakan akuntan forensik. Tapi di balik kacamata tipis dan senyum sopan, dia menyimpan ambisi yang membara.
Arga, 33 tahun, adalah eksekutor. Tangan kanan Pak Tua selama delapan tahun. Dia yang membersihkan “sampah”, yang memastikan hutang dibayar, yang membuat orang menghilang tanpa jejak. Dia tidak pernah bertanya “kenapa”. Hanya “berapa” dan “kapan”.
Keduanya dibesarkan dengan satu aturan sama:
**Keluarga di atas segalanya… kecuali kekuasaan.**
Malam setelah pemakaman, Arga duduk di rooftop apartemennya di SCBD. Di tangannya segelas whiskey tua. Di depannya sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV gudang di Cakung.
Rayhan tertembak dari jarak dekat. Peluru 9mm. Tidak ada perlawanan. Artinya dia percaya pada orang yang menembaknya.
Dan di sudut rekaman, terlihat bayangan seseorang yang sangat dikenal Arga: jaket bomber hitam dengan bordir serigala kecil di dada kiri. Jaket yang sama persis dengan yang pernah dia belikan untuk Dito di ulang tahun ke-25.
Arga mematikan tablet. Napasnya berat.
**Bab 3 – Permainan Dimulai**
Dua minggu kemudian.
Dito dipanggil ke villa Pak Tua di Puncak. Ruangan besar berdinding kayu jati, perapian menyala, aroma cerutu Kuba memenuhi udara.
Pak Tua duduk di kursi besar seperti raja. Di sebelahnya Arga berdiri diam, tangan di belakang punggung.
“Dito,” kata Pak Tua pelan. “Kau tahu kenapa kau dipanggil?”
Dito tersenyum tipis. “Rayhan?”
“Benar. Dan aku ingin jawaban jujur.”
Dito menatap lurus ke mata tua itu.
“Aku tidak menembak kakakku. Tapi aku tahu siapa yang melakukannya.”
Arga melangkah maju satu langkah. Suaranya dingin.
“Siapa?”
Dito menoleh ke kakaknya. Matanya penuh sesuatu yang sulit dibaca – penyesalan, atau mungkin hanya akting bagus.
“Rendra. Kaptennya Rayhan sendiri. Dia sudah lama bekerja sama dengan kartel Lampung. Mereka ingin mengambil alih rute Pelabuhan Tanjung Priok.”
Arga tertawa kecil, getir.
“Kau pikir aku bodoh, To?”
Dito mengangkat bahu.
“Percaya atau tidak, terserah. Tapi kalau kau bunuh aku sekarang, kau tidak akan pernah tahu bukti yang aku simpan.”
Pak Tua mengangkat tangan, menghentikan Arga yang sudah siap menarik Glock dari pinggang.
“Bawa buktinya besok malam. Di gudang lama Kemayoran. Kalau bohong… kau tahu akibatnya.”
Dito mengangguk, lalu pergi tanpa kata lagi.
**Bab 4 – Malam di Gudang Kemayoran**
Hujan kembali turun deras.
Gudang tua itu berbau karat dan minyak bekas. Lampu neon berkedip-kedip. Di tengah ruangan, meja besi panjang. Di atasnya sebuah USB hitam kecil.
Dito berdiri sendirian.
Arga muncul dari bayangan, pistol sudah di tangan.
“USB-nya.”
Dito menggeser benda itu ke arah Arga.
“Rekaman suara. Rayhan dan Rendra bertengkar dua hari sebelum dia mati. Rendra mengancam akan membocorkan daftar rekening offshore kalau tidak dapat bagian lebih besar.”
Arga memasukkan USB ke tabletnya. Memutar.
Suara Rayhan terdengar jelas:
“…kau pikir aku takut sama Lampung? Kalau kau sentuh satu sen pun dari rute itu, aku sendiri yang akan—”
Tembakan. Satu kali. Lalu hening.
Arga mematikan suara. Matanya naik ke Dito.
“Kau ada di sana?”
Dito diam sejenak.
“Aku… datang terlambat. Aku cuma sempat ambil ponselnya dan rekam bagian akhir.”
Arga mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba menodongkan pistol ke dahi Dito.
“Kau bohong.”
Dito tidak berkedip.
“Kenapa kau yakin?”
“Karena di rekaman itu, detik sebelum tembakan, ada suara napas orang ketiga. Napas yang aku kenal seumur hidupku. Napasmu, To.”
Hening.
Lalu Dito tertawa pelan.
“Kau selalu lebih jeli dari Rayhan.”
Arga menekan moncong pistol lebih keras.
“Kenapa?”
Dito menatap kakaknya lama.
“Karena Pak Tua sudah tua. Karena Rayhan terlalu lembut akhir-akhir ini. Karena aku ingin kita punya masa depan yang lebih besar dari sekedar jadi anjing penjaga orang tua itu. Dan karena… aku tahu kau tidak akan pernah membunuhku.”
Arga diam. Jari di pelatuk gemetar sedikit – hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari kegelapan, tiba-tiba muncul enam orang bersenjata. Orang-orang Rendra. Tapi Rendra tidak ada di antara mereka.
Yang memimpin adalah seorang wanita berambut pendek, jaket kulit merah darah.
“Lambat sekali kalian bersaudara,” katanya. “Rendra sudah menunggu di pelabuhan. Bersama semua rekening yang kalian pikir aman.”
Arga menoleh ke Dito. Matanya penuh pertanyaan terakhir.
Dito hanya mengangkat bahu.
“Aku bilang aku tidak menembak Rayhan. Tapi aku tidak bilang aku tidak merencanakan semuanya.”
**Bab Akhir – Abu**
Pagi harinya, berita menyebutkan:
“Penembakan massal di gudang Kemayoran. Tujuh mayat ditemukan. Belum ada tersangka.”
Di sebuah kapal kargo menuju Singapura, Dito duduk di kabin mewah. Di depannya segelas champagne.
Di sampingnya, wanita berjaket merah tadi tersenyum.
“Kau yakin kakakmu mati di gudang itu?” tanyanya.
Dito menatap ke laut.
“Arga tidak pernah kalah dalam duel satu lawan satu. Tapi dia kalah dari satu hal: dia masih sayang padaku.”
Dito meneguk champagne-nya.
“Dan itulah kelemahannya.”
Di dasar laut Selat Malaka, beberapa minggu kemudian, seorang penyelam menemukan jaket bomber hitam dengan bordir serigala kecil. Di dalam saku jaket ada sebuah foto lama: tiga bersaudara kecil tertawa di bawah pohon mangga.
Foto itu basah kuyup. Tapi wajah Arga masih jelas terlihat – tersenyum, sebelum dunia mengajarinya arti darah keluarga.
No comments:
Post a Comment