Bab 5 – Orang Mati yang Bernapas
Tiga bulan setelah malam berdarah di gudang Kemayoran.
Pelabuhan Tanjung Priok, pukul 03:17 dini hari. Angin laut membawa bau solar dan ikan busuk. Lampu sorot kuning menyapu kontainer bertumpuk seperti makam raksasa.
Sebuah kontainer biru tua, nomor ABCD 472119, pintunya sedikit terbuka. Di dalamnya gelap, hanya cahaya redup dari lampu emergency yang berkedip.
Di sudut kontainer, seorang pria duduk bersandar ke dinding besi. Jaket kulitnya robek di lengan kiri, darah kering menempel seperti cat hitam. Wajahnya pucat, tapi matanya masih tajam—mata yang pernah membuat orang gemetar hanya dengan tatapan.
Arga Pratama masih hidup.
Peluru yang seharusnya mengakhiri hidupnya malam itu hanya mengenai bahu dan sisi perut. Dua dari enam orang yang menembaknya mati di tempat—tangan Arga lebih cepat. Yang lain kabur setelah melihat dia jatuh. Mereka pikir dia sudah selesai.
Mereka salah.
Arga menghabiskan dua bulan pertama sembunyi di sebuah kontrakan kumuh di pinggiran Bekasi. Dokter gadungan yang biasa menangani preman-preman Serigala Hitam menjahit lukanya tanpa bius. Arga menggigit kain lap sampai robek supaya tidak berteriak.
Sekarang dia kembali. Bukan untuk balas dendam cepat. Balas dendam yang bagus butuh waktu, butuh dingin, butuh rencana.
Di tangannya sebuah ponsel burner. Layar menampilkan pesan terakhir dari nomor yang tidak dikenal:
“Kapal M/V Ocean Queen berangkat besok malam ke Singapura. Dito naik sebagai penumpang VIP. Rendra ikut. Rekening offshore sudah dipindah ke Cayman. Kau tahu apa yang harus dilakukan. – Bayang”
Arga tersenyum tipis. “Bayang” adalah nama samaran yang dia pakai sendiri tujuh tahun lalu, saat masih jadi anak baru di Serigala Hitam. Hanya dia dan Pak Tua yang tahu kode itu.
Artinya: Pak Tua masih hidup. Dan masih mengendalikan permainan dari bayang-bayang.
Arga mematikan ponsel, memecahkannya dengan tumit sepatu bot, lalu membuang pecahannya ke genangan air di lantai kontainer.
Dia berdiri pelan, menahan sakit di perut. Dari balik jaket, dia mengeluarkan sebuah karambit—pisau lengkung yang sama persis dengan yang dulu dipakai ayah mereka. Bilahnya sudah diasah sampai bisa mencukur bulu lengan.
“Waktunya pulang, adik,” gumamnya pelan.
**Bab 6 – Pertemuan di Dek Atas**
Malam berikutnya.
M/V Ocean Queen adalah kapal kargo sekaligus penumpang mewah yang jarang diketahui publik. Dek atasnya punya suite pribadi, kolam infinity kecil, dan bar yang buka 24 jam.
Dito duduk di salah satu kursi kulit di bar itu, memandang laut hitam yang bergelombang. Di sebelahnya, wanita berjaket merah darah—namanya Nadia, mantan kekasih Rendra yang kini jadi “partner bisnis”—sedang menyeruput martini.
“Dia sudah mati, To,” kata Nadia pelan. “CCTV gudang menunjukkan dia terkena minimal empat peluru. Tidak ada yang selamat dari situ.”
Dito memutar gelas whiskey di tangannya.
“Aku tahu.”
“Tapi kau masih gelisah.”
Dito menatap ke cermin di belakang bar. Di pantulan itu, dia melihat bayangan seseorang berdiri di pintu masuk dek—tinggi, jaket kulit hitam, rambut basah oleh gerimis laut.
Matanya melebar sedetik.
“Itu… mustahil.”
Nadia menoleh. Wajahnya langsung pucat.
Arga melangkah masuk pelan. Tidak buru-buru. Setiap langkah terdengar seperti detik jam yang menghitung mundur.
Bartender melihat Arga, lalu buru-buru menghilang ke belakang bar.
Arga berhenti tiga meter dari meja mereka.
“Dito.”
Suara itu rendah, serak karena luka di dada yang belum sembuh total.
Dito berdiri perlahan. Tangannya gemetar sedikit, tapi dia berusaha tersenyum.
“Kak… kau—”
“Jangan panggil aku kakak,” potong Arga dingin. “Kau kehilangan hak itu sejak kau biarkan Rayhan mati di depan matamu.”
Nadia mencoba mundur. Arga mengeluarkan karambit dari saku belakang, memutarnya sekali di jari.
“Duduk, Nadia. Kau ikut main di meja ini, kau ikut bayar.”
Nadia duduk kembali, tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuannya—mungkin ada pistol di dalam.
Dito menatap kakaknya lama.
“Kau seharusnya mati.”
“Dan kau seharusnya tidak pernah lahir,” balas Arga. “Tapi di sini kita sama-sama.”
Hening sejenak, hanya suara ombak menghantam lambung kapal.
“Aku tidak menembak Rayhan,” kata Dito akhirnya. “Itu Rendra. Aku cuma… membiarkannya.”
Arga tertawa kecil, getir.
“Itu lebih buruk.”
Dito mengangkat bahu.
“Aku ingin kekuasaan, Arga. Bukan cuma jadi eksekutor selamanya. Pak Tua sudah tua. Rayhan terlalu idealis. Kau… kau terlalu setia. Aku satu-satunya yang melihat masa depan.”
Arga melangkah lebih dekat.
“Masa depanmu berakhir malam ini.”
Tiba-tiba lampu di dek atas padam. Gelap total.
Terdengar suara langkah kaki cepat dari arah tangga—beberapa orang.
Rendra muncul dari kegelapan, diikuti empat anak buah bersenjata.
“Selamat malam, Arga,” kata Rendra sambil tersenyum lebar. “Kau keras kepala sekali.”
Arga tidak menoleh. Matanya tetap ke Dito.
“Kau bawa bala bantuan. Bagus. Biar lebih seru.”
Dito mundur satu langkah.
“Kak… ini tidak harus berakhir begini.”
Arga memandang adiknya untuk terakhir kali—bukan dengan marah, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam: kekecewaan yang tak terucap.
“Sudah terlambat, To.”
Lalu dia bergerak.
Karambit melesat seperti kilat. Orang pertama yang mendekat jatuh dengan leher terbuka. Yang kedua mencoba menembak—Arga sudah berada di belakangnya, memelintir tangan sampai pistol jatuh, lalu menusuk dari belakang.
Rendra menembak. Peluru mengenai bahu Arga yang sudah terluka. Arga meringis, tapi tidak berhenti.
Nadia berteriak, menarik pistol dari tasnya—tapi Arga lebih cepat. Dia melempar karambit. Pisau itu menancap tepat di dada Nadia. Wanita itu ambruk tanpa suara.
Rendra mundur, menembak lagi. Kali ini peluru hanya menggores lengan Arga.
Dito berdiri membeku.
Arga berjalan ke arah Rendra, darah menetes dari luka barunya.
Rendra panik. Dia menembak sampai magasin habis.
Klik. Klik. Kosong.
Arga sudah di depannya.
“Katakan padaku,” suara Arga pelan, “siapa yang memberi tahu kau posisiku di gudang malam itu?”
Rendra tertawa gugup.
“Kau pikir aku bodoh? Aku punya orang di dalam timmu sendiri.”
Arga mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Lalu dia menusuk sekali—tepat di jantung.
Rendra jatuh berlutut, matanya terbelalak.
Arga menoleh ke Dito.
Sekarang hanya mereka berdua di dek yang gelap, dikelilingi mayat.
Dito menangis. Bukan pura-pura. Air mata sungguhan.
“Kak… bunuh aku. Aku pantas mati.”
Arga mendekat. Karambit masih di tangan, berlumur darah.
Dia mengangkat pisau itu ke leher Dito.
Tapi tangannya berhenti.
Foto lama dari saku jaketnya jatuh ke lantai—foto tiga bersaudara kecil di bawah pohon mangga.
Arga menatap foto itu lama.
Lalu dia menurunkan karambit.
“Bukan aku yang akan membunuhmu,” katanya pelan. “Hidupmu sekarang adalah hukumanmu. Setiap hari kau akan ingat wajah Rayhan. Setiap malam kau akan mendengar suara tembakan itu. Dan kau akan tahu—kau sendirian selamanya.”
Arga berbalik, berjalan menuju tangga menuju dek bawah.
Dito berlutut, menangis tersedu.
“Kak… jangan tinggalkan aku…”
Arga berhenti di pintu.
Tanpa menoleh:
“Kau sudah meninggalkan kami duluan, To.”
Lalu dia menghilang ke kegelapan.
**To be continued…**
No comments:
Post a Comment