Tuesday, February 3, 2026

IRC Petualang Seru Ciwidey Episode 2


Malam itu belum selesai. Justru baru benar-benar dimulai.

Ketika jarum jam melewati angka sepuluh, satu per satu rider keluar dari kamar, sebagian masih menggigil, sebagian sudah menyerah pada dingin dan memilih hoodie berlapis jaket. Delapan puluh rider IRC akhirnya berkumpul di ruang utama villa. Ruangan yang awalnya terasa besar, mendadak jadi sempit oleh tawa, tubuh-tubuh lelah, dan energi yang tak habis-habis meski perjalanan panjang sudah dilalui.

Seseorang menaikkan volume speaker. Lagu pertama diputar—bukan lagu baru, tapi lagu lama yang entah kenapa selalu berhasil menyatukan suara-suara fals. Dalam hitungan detik, ruangan berubah jadi panggung bebas. Ada yang bernyanyi sambil menutup mata penuh penghayatan, ada yang teriak-teriak lirik asal, ada pula yang hanya menepuk-nepuk meja mengikuti irama. Tak ada yang peduli suara siapa paling bagus. Yang penting berani bersuara.

Joget dimulai tanpa aba-aba. Gaya bebas. Gaya patah-patah. Gaya sok profesional. Ada rider yang tubuhnya kaku seperti robot karatan, tapi justru itu yang paling ditunggu. Tawa pecah setiap kali gerakan aneh muncul. Kamera ponsel merekam, bukan untuk pamer, tapi untuk bahan kenangan dan ejekan manis di kemudian hari.

Lalu muncullah sesi yang paling ditunggu: kuis malam IRC. Aturannya sederhana, hadiahnya receh, tapi hukumannya mematikan—menyanyi solo, berjoget di tengah lingkaran, atau menyebutkan nama mantan tanpa berpikir lama. Pertanyaan dilempar, jawaban ngawur muncul, dan setiap kesalahan disambut sorakan. Ada yang pura-pura tak dengar, ada yang pasrah sambil tertawa, ada pula yang terlalu jujur hingga satu ruangan meledak oleh tawa.

Di sela-sela itu, kopi panas terus diseduh. Gelas berpindah tangan. Obrolan kecil tumbuh di sudut-sudut ruangan: cerita jatuh motor dulu, kisah touring gagal, mimpi besar komunitas, sampai keluhan lutut yang mulai protes usia. Malam membuat semua jadi jujur. Tak ada jabatan, tak ada siapa paling senior—yang ada hanya rider yang sama-sama capek tapi bahagia.

Sekitar tengah malam, hujan kembali turun. Suaranya mengetuk atap villa seperti irama tambahan. Beberapa rider keluar ke teras, menghisap rokok sambil memandangi gelap Ciwidey. Udara dingin menusuk, tapi percakapan menghangatkan. Ada tawa pelan, ada diam panjang, ada rasa syukur yang tak diucap tapi terasa.

Saat lagu terakhir dinyanyikan, suara mulai serak, kaki mulai berat. Satu per satu tumbang ke sofa, lantai, bahkan karpet tipis. Tapi sebelum tidur benar-benar menang, seseorang berseru,
“Besok cerita ini bakal kita ulang terus, ya!”

Dan semua tahu itu bukan janji kosong.

Karena malam itu, di villa dingin Ciwidey, 80 rider bukan sekadar rombongan touring. Mereka adalah keluarga sementara yang tercipta dari hujan, jalan panjang, tawa, dan kebersamaan. Sebuah malam yang akan hidup terus—setiap kali nama IRC disebut, dan setiap kali mesin kembali dipanaskan untuk perjalanan berikutnya.

Sunday, February 1, 2026

IRC, Pertualangan Seru ke 3 dari Jakarta Menuju Ciwidey



Perjalanan Touring IRC: Jakarta – Ciwidey

Pagi itu Jakarta belum sepenuhnya terjaga ketika deru mesin mulai memecah sunyi. Di sebuah titik temu, para rider IRC berdiri berdampingan, jaket hitam berlogo komunitas melekat seperti sumpah setia. Kopi panas, candaan receh, dan pelukan singkat mengiringi doa sebelum roda berputar. Tujuan kami satu: Ciwidey, tanah dingin yang selalu punya cerita.

Keluar dari hiruk-pikuk ibu kota, jalanan mulai bersahabat. Namun touring tak pernah hanya soal aspal mulus. Di tengah perjalanan, hujan turun tanpa aba-aba. Bukan rintik manja, tapi hujan yang menghajar helm dan dada. Visor buram, sarung tangan basah, dan sepatu mulai terasa berat. Ada yang sempat tergelincir kecil, ada motor yang batuk, tapi tak satu pun tertinggal. IRC bukan tentang siapa paling cepat, tapi siapa yang paling setia menunggu.

Di bawah flyover yang sempit, kami berhenti. Tertawa melihat jas hujan yang sobek, saling ejek soal gaya berkendara, sambil menepuk bahu rider yang terlihat paling kuyup. Hujan seolah menguji, tapi justru di sanalah persaudaraan dipanaskan. Satu rokok dibagi dua, satu botol minum berpindah tangan, dan cerita lama kembali hidup.

Memasuki wilayah Bandung Selatan, kabut mulai turun. Jalan berliku, tanjakan panjang, dan udara yang semakin dingin memaksa konsentrasi penuh. Di tikungan Ciwidey, mesin meraung lebih keras, napas mengepul, dan rasa lelah bercampur kagum melihat kebun teh yang terhampar hijau dan sunyi. Saat villa akhirnya terlihat, sorak kecil pecah—bukan karena mewah, tapi karena berhasil.

Malam Ciwidey menusuk tulang. Jaket berlapis masih kalah oleh angin gunung. Saat tidur, drama baru dimulai: selimut jadi barang paling berharga. Ada yang pura-pura sudah tidur duluan, ada yang bangun tengah malam hanya untuk menarik ujung selimut. Tawa tertahan di balik gelap, gigi gemeretak, dan akhirnya tidur berdesakan jadi solusi paling jujur.

Namun dingin tak mematikan hangat. Di ruang tengah villa, gitar dipetik seadanya, lagu lama dinyanyikan tanpa nada sempurna. Ada yang berjoget kaku, ada yang tertawa sampai air mata keluar. Hujan kembali turun di luar, tapi di dalam, kami menari, bernyanyi, dan melupakan lelah. Malam itu Ciwidey menjadi saksi: IRC bukan sekadar touring, melainkan perjalanan pulang—kepada tawa, solidaritas, dan persaudaraan.

Dan saat pagi datang, kami tahu satu hal: cerita ini akan selalu kami ulang, setiap kali mesin dinyalakan.

Wednesday, January 21, 2026

Pengalamanku Tinggal di Berlin 1972


BAB I

Kota yang Tidak Pernah Tidur

Berlin tidak menyambut kami dengan suara.

Ia menyambut dengan diam.

Pesawat mendarat pelan di Bandara Tegel pada pagi yang kelabu, tahun 1972. Dari balik jendela kecil, aku melihat landasan basah, kabut menggantung rendah, dan barisan lampu yang menyala meski matahari sudah terbit. Dunia tampak seperti menahan napas.

Aku delapan tahun.

Usia di mana seorang anak seharusnya percaya bahwa kota adalah tempat bermain, bukan tempat menyimpan rahasia.

Ayah berdiri lebih tegak dari biasanya. Mantel hitamnya rapi, kancing tertutup sampai leher. Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan, juga tidak cemas—hanya siap. Seperti seorang pria yang tahu bahwa setiap kata bisa menjadi kesalahan.

“Selamat datang di Berlin,” katanya singkat.

Ibuku menggenggam tanganku. Tangannya dingin, meski ia tersenyum. Senyum ibu selalu seperti itu sejak kami berangkat—senyum yang berusaha menenangkan, bukan merayakan.

Di dalam mobil dinas, kota bergerak perlahan melewati jendela: gedung-gedung tinggi, pepohonan tanpa daun, tentara berseragam hijau zaitun berdiri di sudut-sudut tertentu. Tidak banyak orang berjalan kaki. Tidak ada suara klakson yang terburu-buru. Berlin terasa seperti kota yang berbisik pada dirinya sendiri.

Aku menempelkan dahi ke kaca jendela.

“Ayah,” tanyaku, “kenapa kota ini seperti menunggu sesuatu?”

Ayah tidak langsung menjawab.

“Karena di Berlin,” katanya akhirnya, “tidak semua hal sudah selesai.”

Aku tidak mengerti. Tapi aku mengangguk.


Rumah dinas kami berada di Berlin Barat, di kawasan yang tertata rapi dan terlalu tenang. Halamannya luas, pohonnya tinggi, dan pagar besinya dicat hitam mengilap. Dari luar, rumah itu tampak seperti rumah keluarga bahagia di buku cerita. Dari dalam, ia terasa seperti tempat singgah—bukan rumah.

Kamarku berada di lantai dua. Jendelanya besar, menghadap ke arah timur. Ayah bilang itu kebetulan. Tapi malam pertama, aku tahu arah itu bukan sekadar arah mata angin.

Malam pertama di Berlin, aku tidak bisa tidur.

Bukan karena jet lag.
Bukan karena rindu.

Melainkan karena cahaya.

Lampu putih menyapu jendela kamarku perlahan. Terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Terlalu dingin untuk disebut terang biasa. Cahaya itu datang, berhenti sesaat, lalu pergi.

Seperti seseorang yang memastikan aku ada.

Aku bangkit dari tempat tidur dan mengintip ke luar. Di kejauhan, jauh melampaui pepohonan dan bangunan, aku melihat garis gelap yang memanjang lurus, seolah mengiris kota.

Aku belum tahu namanya saat itu.

Tapi tubuhku tahu—
itulah sumber cahaya itu.


Hari-hari pertamaku di Berlin diisi oleh sekolah, bahasa baru, dan senyum-senyum yang tidak pernah sepenuhnya sampai ke mata orang dewasa. Di sekolah internasional, kami duduk rapi di bangku kayu, belajar tentang angka, kata, dan peta dunia.

Pada hari ketiga, guru kami—Frau Schneider—menggambar peta Jerman di papan tulis.

Tangannya gemetar saat menarik garis tebal di tengahnya.

“Ini Berlin Barat,” katanya.
“Dan ini Berlin Timur.”

Seorang anak Amerika mengangkat tangan. “Kenapa dipisah?”

Frau Schneider menatap garis itu lama sekali.
“Karena dunia takut,” katanya pelan.

Ia segera menghapus papan tulis setelah itu, seolah takut garis itu terlalu lama terlihat.


Aku berteman dengan anak bernama Lukas. Ia anak Jerman, tinggal dekat rumahku. Kami bermain sepeda dan saling mengajari kata-kata lucu dalam bahasa masing-masing. Lukas sering tertawa, tapi tawanya cepat berhenti jika kami mendekati arah tertentu.

“Ayah bilang kita tidak boleh ke sana,” katanya suatu sore, menunjuk arah timur.

“Kenapa?”

Lukas mengangkat bahu, tapi matanya berubah.
“Karena tembok itu… tidak suka dilihat.”

Aku tertawa. “Tembok tidak bisa melihat.”

Lukas tidak ikut tertawa.


Malam keempat, aku mendengar suara itu untuk pertama kalinya.

Tok… tok… tok…

Bukan dari pintu.
Bukan dari dinding kamar.

Suara itu datang dari jauh, tapi terasa dekat. Seperti ketukan yang berjalan melewati tanah dan masuk ke kepalaku.

Aku memanggil ibu. Ia datang, duduk di tepi ranjang, mengusap rambutku.

“Itu hanya suara kota,” katanya.

“Tapi kota tidak mengetuk,” jawabku.

Ibu terdiam.
Lalu memelukku lebih erat dari biasanya.


Beberapa hari kemudian, ayah mengajakku naik mobil.

“Kau harus melihat ini,” katanya.

Kami berhenti jauh dari sebuah bangunan kecil dengan papan bertuliskan Checkpoint Charlie. Tentara berdiri saling berhadapan. Senjata di tangan. Mata lurus ke depan.

Aku merasakan sesuatu menekan dadaku.

“Ayah,” bisikku, “kenapa mereka berdiri begitu?”

“Supaya tidak ada yang bergerak,” jawabnya.

Aku melihat ke arah seberang. Di balik garis itu, kota tampak lebih gelap. Lebih sunyi. Seolah warna ditarik keluar dari dunia.

“Apakah orang di sana bisa ke sini?” tanyaku.

Ayah menatap lurus ke depan.
“Tidak semua orang.”


Malam itu, aku berdiri lama di depan jendela.

Lampu sorot menyapu lagi.
Cahaya berhenti tepat di arah kamarku.

Aku menahan napas.

Dan untuk sesaat—
aku yakin—
cahaya itu menatap balik.

Di kejauhan, sangat jauh, aku melihat sesuatu bergerak cepat lalu menghilang.

Aku tidak tahu bahwa malam itu Berlin mulai mengenal namaku.

Dan aku belum tahu,
bahwa kota ini
tidak pernah melepaskan
anak-anak yang melihat terlalu banyak.



Tuesday, January 13, 2026

William Shakepeare: The Sonnets

 The Sonnets


From fairest creatures we desire increase,
That thereby beauty’s rose might never die,
But as the riper should by time decease,
His tender heir might bear his memory:
But thou contracted to thine own bright eyes,
Feed’st thy light’s flame with self-substantial fuel,
Making a famine where abundance lies,
Thyself thy foe, to thy sweet self too cruel:
Thou that art now the world’s fresh ornament,
And only herald to the gaudy spring,
Within thine own bud buriest thy content,
And, tender churl, mak’st waste in niggarding:
    Pity the world, or else this glutton be,
    To eat the world’s due, by the grave and thee.

                    2

When forty winters shall besiege thy brow,
And dig deep trenches in thy beauty’s field,
Thy youth’s proud livery so gazed on now,
Will be a tattered weed of small worth held:
Then being asked, where all thy beauty lies,
Where all the treasure of thy lusty days;
To say, within thine own deep sunken eyes,
Were an all-eating shame, and thriftless praise.
How much more praise deserv’d thy beauty’s use,
If thou couldst answer ‘This fair child of mine
Shall sum my count, and make my old excuse,’
Proving his beauty by succession thine.
    This were to be new made when thou art old,
    And see thy blood warm when thou feel’st it cold.

                    3

Look in thy glass and tell the face thou viewest,
Now is the time that face should form another,
Whose fresh repair if now thou not renewest,
Thou dost beguile the world, unbless some mother.
For where is she so fair whose uneared womb
Disdains the tillage of thy husbandry?
Or who is he so fond will be the tomb
Of his self-love to stop posterity?
Thou art thy mother’s glass and she in thee
Calls back the lovely April of her prime,
So thou through windows of thine age shalt see,
Despite of wrinkles this thy golden time.
    But if thou live remembered not to be,
    Die single and thine image dies with thee.

                    4

Unthrifty loveliness why dost thou spend,
Upon thyself thy beauty’s legacy?
Nature’s bequest gives nothing but doth lend,
And being frank she lends to those are free:
Then beauteous niggard why dost thou abuse,
The bounteous largess given thee to give?
Profitless usurer why dost thou use
So great a sum of sums yet canst not live?
For having traffic with thyself alone,
Thou of thyself thy sweet self dost deceive,
Then how when nature calls thee to be gone,
What acceptable audit canst thou leave?
    Thy unused beauty must be tombed with thee,
    Which used lives th’ executor to be.

                    5

Those hours that with gentle work did frame
The lovely gaze where every eye doth dwell
Will play the tyrants to the very same,
And that unfair which fairly doth excel:
For never-resting time leads summer on
To hideous winter and confounds him there,
Sap checked with frost and lusty leaves quite gone,
Beauty o’er-snowed and bareness every where:
Then were not summer’s distillation left
A liquid prisoner pent in walls of glass,
Beauty’s effect with beauty were bereft,
Nor it nor no remembrance what it was.
    But flowers distilled though they with winter meet,
    Leese but their show, their substance still lives sweet.

                    6

Then let not winter’s ragged hand deface,
In thee thy summer ere thou be distilled:
Make sweet some vial; treasure thou some place,
With beauty’s treasure ere it be self-killed:
That use is not forbidden usury,
Which happies those that pay the willing loan;
That’s for thyself to breed another thee,
Or ten times happier be it ten for one,
Ten times thyself were happier than thou art,
If ten of thine ten times refigured thee:
Then what could death do if thou shouldst depart,
Leaving thee living in posterity?
    Be not self-willed for thou art much too fair,
    To be death’s conquest and make worms thine heir.

                    7

Lo in the orient when the gracious light
Lifts up his burning head, each under eye
Doth homage to his new-appearing sight,
Serving with looks his sacred majesty,
And having climbed the steep-up heavenly hill,
Resembling strong youth in his middle age,
Yet mortal looks adore his beauty still,
Attending on his golden pilgrimage:
But when from highmost pitch with weary car,
Like feeble age he reeleth from the day,
The eyes (fore duteous) now converted are
From his low tract and look another way:
    So thou, thyself out-going in thy noon:
    Unlooked on diest unless thou get a son.

                    8

Music to hear, why hear’st thou music sadly?
Sweets with sweets war not, joy delights in joy:
Why lov’st thou that which thou receiv’st not gladly,
Or else receiv’st with pleasure thine annoy?
If the true concord of well-tuned sounds,
By unions married do offend thine ear,
They do but sweetly chide thee, who confounds
In singleness the parts that thou shouldst bear:
Mark how one string sweet husband to another,
Strikes each in each by mutual ordering;
Resembling sire, and child, and happy mother,
Who all in one, one pleasing note do sing:
    Whose speechless song being many, seeming one,
    Sings this to thee, ‘Thou single wilt prove none’.

                  9

Is it for fear to wet a widow’s eye,
That thou consum’st thyself in single life?
Ah, if thou issueless shalt hap to die,
The world will wail thee like a makeless wife,
The world will be thy widow and still weep,
That thou no form of thee hast left behind,
When every private widow well may keep,
By children’s eyes, her husband’s shape in mind:
Look what an unthrift in the world doth spend
Shifts but his place, for still the world enjoys it;
But beauty’s waste hath in the world an end,
And kept unused the user so destroys it:
    No love toward others in that bosom sits
    That on himself such murd’rous shame commits.

                    10


For shame deny that thou bear’st love to any
Who for thyself art so unprovident.
Grant if thou wilt, thou art beloved of many,
But that thou none lov’st is most evident:
For thou art so possessed with murd’rous hate,
That ’gainst thyself thou stick’st not to conspire,
Seeking that beauteous roof to ruinate
Which to repair should be thy chief desire:
O change thy thought, that I may change my mind,
Shall hate be fairer lodged than gentle love?
Be as thy presence is gracious and kind,
Or to thyself at least kind-hearted prove,
    Make thee another self for love of me,
    That beauty still may live in thine or thee.



Monday, December 15, 2025

Dokter Hebat Dari Desa Kecil

Bab 1: Di Atas Bus


Siang hari di bulan Juli, saat terpanas dalam setahun, suara tonggeret terdengar lemah dari deretan pohon phoenix di pinggir jalan.
Terminal Bus Selatan Kabupaten Niuy.

Sebuah minibus tua yang menuju Kecamatan Lianhua di Kabupaten Niuy bersiap berangkat. Kabin yang pengap itu sudah penuh sesak oleh penumpang. Kabupaten Niuy adalah daerah miskin di Sichuan Barat, dan Kecamatan Lianhua merupakan kecamatan termiskin di bawahnya. Bus ini hanya beroperasi sekali sehari, dan kendaraan yang digunakan adalah rongsokan tua yang dipensiunkan dari kecamatan lain. Tidak ada pendingin udara di dalam kabin; di bawah terik matahari, suasananya panas menyengat seperti kukusan, hingga kacamata pun langsung berembun.

Meski panasnya nyaris tak tertahankan, minibus itu tak kunjung berangkat. Sopir dan kernet berteriak serak dari pintu masuk,
“Lianhua! Ada lagi yang mau ke Lianhua?”

“Panasnya luar biasa! Kenapa belum jalan juga?”
“Anak saya hampir kena heatstroke, ayo berangkat, cepat!”
“Sudah penuh, kenapa masih menunggu? Mata kalian cuma lihat uang!”

Keluhan bersahut-sahutan memenuhi kabin.

Melihat tak ada lagi penumpang yang naik, sopir menggerutu tak rela sambil kembali ke kursinya dan berteriak tidak sabar,
“Baik, baik, kita berangkat sekarang! Berisik amat!”

Tepat saat mesin dinyalakan, sebuah suara lembut terdengar,
“Tunggu, Pak Sopir, saya ke Lianhua.”

“Baik, naik!” Sopir segera membuka pintu. Sesaat kemudian, rahangnya ternganga, matanya terpaku pada sosok anggun yang melangkah masuk.

Itu adalah seorang perempuan setidaknya setinggi 1,7 meter. Alisnya halus, dihiasi kacamata berbingkai emas. Di balik lensa itu tersembunyi sepasang mata yang dalam dan memikat. Rambut hitamnya diikat sederhana di belakang kepala, menampakkan kulit yang halus dan bersih. Kemeja sutra putih yang dikenakannya tampak tegang di bagian dada. Ia memancarkan aura gagah tanpa kehilangan pesona dinginnya; keseksiannya mengandung wibawa samar yang secara naluriah membangkitkan hasrat penaklukan dalam diri pria normal mana pun.

Begitu perempuan itu masuk ke kabin reyot tersebut, ia tampak seperti angsa yang jatuh ke kandang ayam.

Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya, dan kabin yang tadi riuh mendadak hening selama beberapa detik.

Shen Yuerong sedikit mengernyit.

Sejujurnya, ia langsung menyesal begitu naik ke bus. Ia tak menyangka kendaraan menuju Kecamatan Lianhua akan sedemikian kumuh. Bukan hanya panas yang menyiksa, kabin itu juga dipenuhi campuran bau ayam, bebek, kaki, dan keringat.

Namun Shen Yuerong segera menepis keinginan untuk turun. Sejak memutuskan melarikan diri dari pengaturan keluarganya dan datang ke daerah terpencil serta miskin ini untuk memulai dari bawah, ia telah bertekad melupakan statusnya sebagai perempuan yang dimanjakan dan belajar menanggung penderitaan. Inilah pula alasan mengapa ia diam-diam pergi sendiri ke Kecamatan Lianhua, alih-alih menerima pengawalan dari Departemen Organisasi.

Shen Yuerong berjalan ke arah belakang kabin. Jarak ke Kecamatan Lianhua puluhan kilometer, dan katanya jalan pun belum sepenuhnya beraspal; jelas ia tak ingin berdiri sepanjang perjalanan.

Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa bus itu sudah benar-benar penuh.

Jika masih ada satu tempat tersisa, itu berada di bangku panjang baris paling belakang, tempat tiga orang berdesakan. Seorang pemuda kurus berkepala botak duduk di dekat jendela, mengenakan kaus murah dan celana pendek. Kulit kepalanya berkilat samar, dan sebuah bekas luka di wajahnya menambah kesan garang pada rautnya yang sebenarnya cukup tampan.

Pemuda botak itu sedang memegang sebuah buku. Seolah merasakan tatapan Shen Yuerong, ia sedikit mengangkat kepala; kilatan keterkejutan tampak di matanya, namun segera ia kendalikan. Ia melirik kabin yang padat, lalu tersenyum tipis kepada Shen Yuerong dan menggeser tubuhnya, memperlihatkan satu kursi kosong di dekat jendela.

Jika memungkinkan, Shen Yuerong sama sekali tidak ingin duduk di samping pemuda botak ini.

Sebagai seseorang yang lama berkecimpung di dunia pemerintahan, instingnya tajam. Sekilas saja ia sudah dapat menilai bahwa pemuda botak ini kemungkinan besar baru saja keluar dari penjara—ia menunjukkan banyak ciri khas mantan narapidana.

Lagipula, meski pemuda itu memberi ruang, tempat duduknya tetap sangat sempit.

Saat Shen Yuerong masih ragu, bus tiba-tiba melaju, membuatnya terhuyung. Karena kabin bahkan tidak memiliki pegangan tangan, ia terpaksa berjalan ke baris belakang, mengucapkan terima kasih pada pemuda botak itu, lalu dengan hati-hati menyelipkan tubuhnya untuk duduk.

Walau Shen Yuerong sangat berhati-hati, ruang yang terbatas membuat sentuhan fisik dengan pemuda botak itu tak terelakkan.

Bus semakin cepat melaju.

Seiring guncangan kendaraan, paha Shen Yuerong sesekali bersentuhan dengan paha pemuda botak itu.

Perasaan malu yang sulit dijelaskan pun muncul di hati Shen Yuerong.

Sebagai putri Keluarga Shen, ia belum pernah duduk sedekat ini dengan seorang pria.

Satu-satunya hal yang ia syukuri adalah hari ini ia mengenakan celana panjang; kalau tidak, entah bagaimana ia harus menahan perjalanan panjang ini.

Yang agak mengejutkannya, pemuda botak yang jelas-jelas baru keluar dari penjara itu tidak memanfaatkan keadaan. Ia berusaha keras merapatkan pahanya dan fokus membaca buku di tangannya.

Sebelumnya, Shen Yuerong sudah berniat: jika pemuda itu berani berbuat tidak sopan, ia akan langsung berdiri, memarahinya habis-habisan, lalu menuntut agar ia diturunkan dari bus.

Kabin terasa semakin pengap.

Tak lama, butiran keringat halus muncul di dahi Shen Yuerong, tubuhnya terasa lengket. Ia mengeluarkan sebungkus tisu untuk sesekali menyeka wajahnya.

Namun, ada sensasi sejuk samar yang berasal dari pahanya, sedikit meredakan panas yang ekstrem.

Ia menunduk dan menyadari bahwa kesejukan itu datang dari paha pemuda botak tersebut. Dalam lingkungan sepanas ini, pemuda itu bahkan tidak berkeringat sama sekali dan justru memancarkan rasa dingin.

Shen Yuerong terkejut. Bagaimana mungkin? Tidak berkeringat di hari sepanas ini biasanya hanya terjadi pada pasien yang sangat lemah, padahal pemuda ini tampak begitu bugar dan sorot matanya cerah.

Merasa aneh, ia memperhatikannya lebih saksama. Tak lama, ia menemukan hal yang lebih mengejutkan lagi: buku yang dipegang pemuda itu sepenuhnya berbahasa Inggris.

Jika ia tidak salah, itu adalah The Wealth of Nations karya Adam Smith.

Seorang pemuda yang seluruh pakaiannya mungkin tak sampai lima puluh yuan, dan baru keluar dari penjara, sedang membaca versi asli bahasa Inggris The Wealth of Nations. Jika ia tidak keliru, maka pemuda itu jelas sedang pamer.

Shen Yuerong diam-diam menggelengkan kepala. Anak muda tetap saja tidak bisa diandalkan. Kalau mau membawa The Wealth of Nations, lebih baik membawa novel Inggris—orang mungkin akan lebih percaya. Lagipula, di bus ini, mustahil ada orang lain selain dirinya yang bisa mengenali The Wealth of Nations.

Saat Shen Yuerong diam-diam meremehkan pemuda itu—

Tiba-tiba terdengar tangisan nyaring.

Di sisi lain pemuda botak itu duduk seorang perempuan muda yang menggendong bayi.

Tangisan berasal dari bayi tersebut. Perempuan muda itu mencoba menenangkannya beberapa kali, namun tangisannya justru semakin keras. Ia menggumamkan beberapa kata, membuka kancing kemeja sintetis murahnya, lalu mulai menyusui bayi itu.

Pipi Shen Yuerong langsung memerah melihat pemandangan itu.

Bagaimana mungkin perempuan desa-desa ini tak tahu malu, menyusui anak di depan umum seperti ini?

Ia melirik ke sana dengan tatapan merendahkan.

Pemuda botak di sampingnya entah sejak kapan telah meletakkan The Wealth of Nations dan menatap tajam ke arah dada perempuan muda itu.

Tak tahu malu!

Hati Shen Yuerong dipenuhi rasa jijik. Pemuda botak ini memang bukan orang baik; tadi ia hanya pamer membaca The Wealth of Nations, dan sekarang sifat aslinya terbongkar.

Mengintip orang yang sedang menyusui—benar-benar tak tahu malu.

Ia menepuk bahu pemuda botak itu dengan keras dan menatapnya tajam.

Berasal dari keluarga terpandang dan lama bekerja di dunia pemerintahan, tatapan Shen Yuerong mengandung wibawa kuat. Orang biasa pasti akan merasa bersalah dan menundukkan kepala saat ditatap seperti itu. Namun pemuda itu justru menoleh, memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya. Melihat Shen Yuerong tidak berkata apa-apa, ia kembali menoleh dan terus menatap perempuan muda tersebut.

Tuesday, December 9, 2025

NEED YOUR HELP FOR SUMATERA FLOOD VICTIMS


​🌊 Help the Victims of the Sumatra Flood Disaster: A Call for Donations

​The island of Sumatra has recently been struck by devastating floods, causing widespread destruction, displacement, and heartbreaking loss. Thousands of families have seen their homes, livelihoods, and possessions washed away in the relentless torrents.

​The immediate aftermath is grim. Victims urgently need basic necessities like clean water, food supplies, essential medical aid, and safe shelter. Children and the elderly are particularly vulnerable, facing acute risks of disease and exposure.

A Direct Appeal to Donors

​We issue a sincere and urgent appeal to all generous donors, organizations, and concerned individuals worldwide. Your financial contribution is vital right now.

IKALISA (Alumni 51 Condet) is actively involved in gathering and channeling aid directly to the affected communities. Relief efforts require substantial funding to rapidly procure and distribute aid, set up temporary clinics, and begin the long process of reconstruction.

  • Fund the Essentials: Donations collected by IKALISA will directly purchase life-saving items like water purification tablets and emergency food packs.
  • Support Recovery: Your funds ensure local aid groups can provide sustained support long after the initial crisis subsides.
  • Immediate Impact: Every single rupiah or dollar contributed makes a profound difference, providing a warm meal, a dry blanket, and the hope of rebuilding for those who have lost everything.

How to Donate to IKALISA

​You can send your financial contributions directly to the designated relief account set up by IKALISA (Alumni 51 Condet):

Bank Mandir

9000-0345-85084

Contact Person: Ierfanchristmast

+62 812-7121-987

Sunday, December 7, 2025

Kembalinya Kekaisaran Baru (3)


Bab 3: Merebut Kekuasaan

​Di tengah-tengah Pengawal Keluarga Long, sesosok tubuh berjubah abu-abu berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggungnya.

​Sepasang mata segitiga yang menyerupai ular itu tidak menunjukkan sedikit pun jejak emosi manusia, dan wajah tuanya menatap dingin ke arah iring-iringan jenazah yang terasa sedikit mendadak itu.

​“Hmm?”

​Di atas kereta kayu cendana ungu-keemasan, Long Jingyun, Kepala Keluarga Long, tiba-tiba menyipitkan mata seperti harimau.

​“Tetua Kedua, apa maksud semua ini?!”

​Kata-kata yang diucapkan Long Jingyun saat ini praktis keluar dari sela-sela giginya!

​Semua orang tertegun melihat pemandangan di hadapan mereka.

​Apa sebenarnya yang terjadi?

​Mereka hanya pergi ke Sekte Ziyang untuk membawa pulang jenazah Long Che; apakah Keluarga telah diubah sedemikian rupa?

​Senjata Tajam yang berkilauan, alat pembunuh ampuh Klan Long yang telah membuat semua penjuru gentar, kini diarahkan pada anggota Klan Long mereka sendiri!

​Apakah Tetua Kedua mencoba untuk memberontak?!

​Seluruh iring-iringan itu tenggelam dalam kebingungan dan keterkejutan yang mendalam!

​“Long Jingyun!”

​Tetua Kedua, Long Fanjiang, meraung, terdengar merasa benar sendiri.

​“Menurut aturan Keluarga Klan Long kita, siapa pun yang tidak memiliki pewaris tidak berhak atas posisi Kepala Keluarga! Oleh karena itu, hari ini, saya akan menjalankan wewenang Kepala Keluarga! Kau akan segera membawa putramu dan menuju ke reruntuhan rumah lama Klan Long untuk dikuburkan pada hari yang baik, tanpa penundaan!”

​Apa?!

​Ini berarti tidak diizinkan masuk melalui gerbang Keluarga!

​Sebagai Kepala Klan Long, putranya meninggal, dan ia bahkan tidak diizinkan membawanya melewati gerbang Keluarganya sendiri?!

​Kemarahan Long Jingyun berkobar; ia menghentakkan kaki, dan seluruh tubuhnya melesat dari kereta harimau, menukik turun seperti elang pemangsa.

​Ketika ia mendarat, paving batu yang keras di bawah kakinya hancur menjadi debu!

​“Long Fanjiang! Beraninya kau! Merampas wewenang dan memberontak terhadap atasanmu, menurut aturan Keluarga, kau akan segera dihukum mati!”

​Aura Long Jingyun sangat besar, memancar keluar!

​Putra mudanya baru saja meninggal, dan Tetua Kedua ini bertindak seperti ini—sungguh pengkhianat dan tak berperasaan!

​Melihat ini, Tetua Kedua, Long Fanjiang, diam-diam menggertakkan giginya.

​Kultivasi Long Jingyun adalah yang terkuat di seluruh Klan Long, dan dia tidak berani memprovokasi dia dengan enteng.

​Namun, mengandalkan aturan Keluarga Klan Long, ia masih merasa sangat percaya diri, dan kata-katanya tetap dingin dan tegas.

​“Hmph, memberontak terhadap atasan? Yang memberontak terhadap atasan sekarang adalah kau, Long Jingyun!”

​Long Fanjiang melambaikan tangannya yang besar, dan semua busur serta anak panah diarahkan ke Long Jingyun, kilauan dingin mereka menebarkan ketakutan di hati setiap orang!

​Apakah dia secara terbuka mencoba merebut kekuasaan?

​Long Jingyun mencibir, memindai sekeliling, tetapi akhirnya menggelengkan kepala tanpa daya.

​“Long Fanjiang, aku tahu kau telah lama mendambakan posisi Kepala Keluarga, tetapi kau hanyalah Tetua Kedua. Bahkan jika aku kehilangan kualifikasiku untuk posisi Kepala Keluarga, itu tidak akan menjadi giliranmu! Di mana Tetua Agung?!”

Swoosh!

​Begitu suara Long Jingyun mereda, sebuah kepala berlumuran darah dilemparkan dari Alam Kekosongan (Void Realm), berguling beberapa kali di tanah sebelum berhenti di kaki Long Jingyun.

​Mata merahnya, bahkan dalam kematian, dipenuhi dengan keengganan yang mendalam; ia mati dengan mata terbelalak!

​“Tetua Agung!”

​Hati Long Jingyun terguncang hebat!

​Kelompok Pengawal Keluarga Long di belakangnya juga menatap ngeri pada kepala yang berlumuran darah itu, semuanya dipenuhi rasa tidak percaya!

​Kepala ini adalah milik Tetua Agung Klan Long!

​Mereka tidak pernah membayangkan bahwa setelah satu perjalanan ke Sekte Ziyang, bencana seperti ini akan menimpa Keluarga!

​Bahkan Tetua Agung yang sangat dihormati telah menemui akhir yang tragis, hidupnya hilang ke Mata Air Kuning (Yellow Springs)!

​“Hmph! Long Jingyun, Tetua Agung mengabaikan aturan Keluarga dan telah dieksekusi olehku di tempat! Aturan Keluarga Long menyatakan bahwa tidak ada yang diizinkan untuk melanggarnya! Kau pun tidak terkecuali!”

​Tetua Kedua, Long Fanjiang, memancarkan Aura dingin; hari ini, ia bertekad untuk berhasil!

​“Tetua Kedua! Bagaimana kau bisa melakukan skema rahasia seperti itu?!”

​Di belakang Long Jingyun, kapten pengawal, Tie Ying, juga melangkah maju dan meraung marah.

​“Hmph, Tie Ying, siapa kau?! Kau hanyalah kapten Pengawal Keluarga Long-ku; ini bukan tempatmu untuk berbicara!”

​Wajah Long Fanjiang dingin membeku, niat membunuhnya nyaris tidak tersembunyi.

​Apa lagi yang ingin Anda terjemahkan atau diskusikan dari cerita ini?

Wednesday, November 26, 2025

Jalan Panjang Ujian Kekaisaran (2)


 

​Bab 2 Keluarga ​

Sekitar tengah hari, Kakak Keempat Li He datang memanggilnya untuk makan.

​Li He terbangun dengan mata mengantuk, membiarkan Kakak Keempatnya membantunya berpakaian dan mencuci muka, lalu menggandeng tangannya dan berjalan ke aula utama.

​Di aula utama, mangkuk dan sumpit sudah tertata.

​Wang Shi mengangkat Li He dan mendudukkannya di pangkuannya di meja, siap untuk makan.

​Li He melihat sekeliling, tidak melihat Kakak-Kakak Perempuannya, dan, teringat sesuatu, bertanya pada Wang Shi, "Ibu, di mana Kakak-Kakak? Kita tidak menunggu mereka?"

​Wang Shi mengambil sesendok telur orak-arik dan menyuapkannya ke Li He, berkata dengan acuh tak acuh, "Kakak-Kakakmu pergi ke ladang untuk mengantar makanan. Mereka akan segera kembali, kita makan dulu."

​Melihat Li He patuh memakan telur orak-arik itu, dia tersenyum dan berkata, "Bagaimana, Anak Ketiga, apakah telur orak-ariknya enak? Ibu sengaja membuatnya untukmu."

​Li He mengecap bibirnya, menikmati rasanya, dan berkata dengan sedikit enggan, "Enak, Ibu makan juga."

​Wajah Wang Shi berseri-seri mendengar ini: "Anak Ketigaku sangat berbakti, ia bahkan tahu menyuruh Ibu makan telur orak-arik. Ibu tidak suka, tubuhmu lemah, lebih baik kamu mendapat lebih banyak nutrisi."

​Kemudian suasana hatinya menjadi muram lagi: "Ini juga salah Ibu karena tidak mampu; andai saja Ibu bisa membelikanmu daging."

​Li He pura-pura tidak mengerti.

Kakak Keempat Li He juga duduk diam di meja makan sepanjang waktu. Li He tahu dia benar-benar ingin makan, dan dia sudah pernah menawari sebelumnya, tetapi reaksi Wang Shi terlalu intens, jadi dia tidak berani mengungkitnya lagi.

​Telur orak-arik itu tidak banyak, tetapi Li He masih kecil dan sudah sakit beberapa saat, jadi nafsu makannya tidak besar. Setelah menghabiskan semangkuk telur orak-arik dan kemudian semangkuk bubur, dia kenyang.

​Melihat Li He tidak berniat makan lagi, Wang Shi menurunkannya di tanah untuk bermain sendiri, dan dia mulai makan.

​Wang Shi makan sayuran hijau tumis dan nasi biji-bijian campur. Disebut sayuran tumis hampir sama dengan direbus; Li He tidak bisa melihat perbedaannya.

​Saat ini, hanya makanan Li He yang berbeda dari orang lain. Sejak Wang Shi tinggal di rumah untuk bekerja, dia selalu mencari cara untuk memberikan makanan spesial kepada Li He.

​Sepenuhnya karena kasih sayang keibuan Wang Shi-lah Li He bisa pulih dengan baik. Oleh karena itu, setelah tawarannya untuk berbagi telur orak-arik langka itu ditolak keluarganya, dia rajin berolahraga untuk mencegah keluarganya khawatir lagi tentang kesehatannya.

​Tidak bisa dikatakan Li He egois, lagipula, setiap kali dia makan telur, dia akan menawarkannya kepada Ayah dan Ibunya, meskipun mereka selalu menolak. Tetapi bagi Li He untuk bersikeras, dia benar-benar tidak bisa melakukannya, karena tubuh ini terlalu lemah.

​Di rumah yang sama sekali tidak kaya ini, dia tidak bisa mendapatkan nutrisi apa pun untuk menyehatkan tubuhnya. Dia hanya bisa berpegangan erat pada satu-satunya makanan berprotein itu, lagipula, dia ingin hidup, bukan sakit-sakitan dan terus-menerus mengkhawatirkan keluarganya.

​Li He perlahan berjalan mondar-mandir di halaman.

​Dia tidak tahu berapa umurnya, tetapi menilai dari perawakannya, dia mungkin sekitar tiga tahun. Namun, mengingat penyakitnya dan kondisi kehidupan di zaman kuno, usianya seharusnya sedikit lebih tua dari yang dia duga, mungkin sudah empat atau lima tahun.

​Dia hanya memiliki gambaran kasar tentang anggota keluarga lainnya. Dia tidak bisa bertanya secara terang-terangan, lagipula, akan terlalu aneh bagi seorang anak kecil tiba-tiba bertanya tentang usia semua orang dalam keluarga, dan itu bahkan bisa menimbulkan kecurigaan.

​Tepat ketika Li He berjalan mengelilingi halaman dua kali dan kemudian melihat ayam-ayam di kandang dengan mata yang baik dan penuh perhatian untuk sementara waktu, Kakak-Kakak Perempuannya juga kembali.

​Generasi keluarga Li ini memiliki empat anak perempuan; putri paman kedua berada di peringkat kedua, dan tiga sisanya adalah Kakak-Kakak kandung Li He. Mereka tidak memiliki nama; anggota keluarga hanya memanggil mereka Bibi Li, Bibi Ketiga Li, dan Kakak Keempat. Mengenai keluarga paman kedua, Li He tidak jelas.

Bibi Li dan Bibi Ketiga Li memasuki halaman dan melihat adik laki-laki mereka berdiri di pintu masuk kandang ayam, menatap ayam-ayam itu.

Bibi Li kini sudah menjadi gadis setengah dewasa; dia maju, menggenggam tangan Li He, dan bertanya sambil tersenyum, "Anak Ketiga, kenapa kamu berdiri di halaman? Sudah makan? Ada makanan enak hari ini."

Bibi Ketiga Li tidak mengatakan apa-apa saat Kakak Perempuannya menarik adik laki-laki mereka untuk berbicara; dia langsung masuk ke aula utama untuk makan.

​Li He dengan patuh digandeng tangannya oleh Kakak Perempuannya ke bangku bambu di halaman dan duduk. Mendengar pertanyaan itu, dia hanya menjawab dengan serius, "Sudah makan. Ibu menyuruhku keluar untuk bermain, Kakak, cepatlah makan, sebentar lagi dingin."

Bibi Li dengan penuh kasih membelai pipi adik laki-lakinya. Sejak Anak Ketiga lahir, dia pada dasarnya telah membesarkannya. Kali ini, dia menderita musibah yang tidak pantas karena dia pergi keluar untuk memetik sayuran, dan ketika dia kembali, dia melihat adik laki-lakinya terbaring tak sadarkan diri di tanah, dengan pelakunya berdiri di sampingnya meratap.

​Saat itu, dia ingin mati. Ibu telah melahirkan tiga Kakak Perempuannya, dan begitu sulit untuk akhirnya memiliki satu anak laki-laki ini. Dia hampir mati karena kesalahannya. Syukurlah, syukurlah, Anak Ketiga diselamatkan, kalau tidak, dia benar-benar tidak akan punya muka untuk hidup di dunia ini.

Bibi Li melihat Li He duduk dengan patuh di bangku tanpa bergerak dan merasa dia terlalu pendiam. Namun, dia mengerti bahwa anak itu mungkin ketakutan setelah mengalami cobaan seperti itu. Dia hanya menginstruksikannya untuk tidak lari keluar halaman dan kemudian masuk ke aula utama untuk makan sendiri.

​Pintu aula utama terbuka, dan orang-orang di dalam selalu bisa melihat apa yang terjadi di luar.

​Li He melihat Kakak Perempuannya masuk ke dalam rumah, lalu bangkit dan melanjutkan berjalan mengelilingi halaman.

​Awalnya, lukanya belum sembuh, dan dia minum obat pahit setiap hari, merasa kasihan pada dirinya sendiri dan berpikir untuk keluar dari kesulitan ini. Kemudian, dia pasrah pada nasib dan mulai menerima dunia ini dan keluarganya, dan dia penasaran untuk sementara waktu, lagipula, ini adalah pemandangan kuno yang murni.

​Namun, hari demi hari, melihat ke luar jendela ke rumah tanah dan kandang ayam di halaman, bahkan hal-hal yang paling segar pun menjadi membosankan. Kemudian, tubuhnya sedikit membaik, dan dokter juga mengatakan dia bisa keluar, tetapi keluarganya melarangnya meninggalkan gerbang halaman, jadi dia hanya bisa berkeliaran di halaman.

​Untungnya, dia adalah seseorang yang bisa beradaptasi dengan keadaan, dan seiring waktu, dia menemukan kesenangan sendiri.

​Selama beberapa kali dia di luar, dia sempat bertemu dengan pelaku yang menyebabkan cederanya beberapa kali, tetapi setiap kali, dia pura-pura tidak melihatnya, menundukkan kepala dan bergegas melewatinya.

​Li He juga tidak menunjukkan perbedaan apa pun; setiap kali, dia dengan tenang melakukan urusannya sendiri dan menemukan kesenangan sendiri.

​Karena Wang Shi mengambil alih pekerjaan rumah tangga untuk menjaga Li He, yang termasuk memasak. Namun, Wang Shi sama sekali menolak memasak untuk pelaku yang hampir membunuh putranya, sehingga keluarga itu beberapa kali bertengkar.

​Kakek Li He-lah yang akhirnya membuat keputusan, mengizinkan Anak Kedua Paman Tertua makan di keluarga yang relatif baik di desa. Mereka akan menyediakan makanan dan upah, karena mereka tidak mungkin membiarkan anak itu kelaparan. Namun, ini hanya untuk makan siang; dia masih harus pulang untuk makan malam.

​Di malam hari, Wang Shi tidak lagi menentang, lagipula, seseorang tidak boleh terlalu ekstrem, jika tidak, mereka akan terlihat tidak masuk akal, dan itu tidak baik. Dia masih harus mendapatkan sesuatu dari keluarga ini untuk menghidupi putranya; semua ini adalah hal yang mereka hutangkan kepada Anak Ketiganya.

​Adapun bagaimana Li He mengetahui semua ini, dia masih tidur di ranjang yang sama dengan Ayah dan Ibunya, dan dia mendengar semua ini ketika Ayah dan Ibunya mengobrol di malam hari, lagipula, tidak ada yang akan berjaga-jaga terhadap seorang anak, bukan?

​Namun, sebagian besar waktu, Wang Shi yang akan berbicara, dan Li San yang akan mendengarkan, dan kemudian tak lama kemudian akan terdengar suara dengkuran. Wang Shi kemudian akan menusuk Li San dengan marah, dan setelah dia bangun, dia akan berbalik dan tertidur, meninggalkan Li San untuk bertanya-tanya sendiri.

​Setiap kali ini terjadi, Li He akan pura-pura tidur dan kemudian diam-diam tertawa, merasakan kehangatan di hatinya saat dia mendengarkan pertanyaan bingung Ayahnya.

​Ketika dia tidur, dia juga samar-samar berpikir: kehidupan seperti ini sebenarnya cukup baik.

​Setelah hampir sebulan seperti ini, perlahan-lahan, tubuh Li He menjadi mirip dengan teman-teman sebayanya.


Tuesday, November 25, 2025

Jalan Panjang Menuju Ujian Kekaisaran (1)


Bab 1 – Kelahiran Kembali

Sudah berapa lama waktu berlalu?
Li He menyandarkan kepalanya pada kusen jendela, melamun tanpa fokus.

Ia memandang cahaya matahari hangat di luar jendela, tatapannya perlahan naik, dan matanya dipenuhi warna hijau dari berbagai tanaman. Di halaman, seorang Perempuan sedang tekun memberi makan ayam dan bebek, sementara beberapa gadis yang lebih besar sibuk membantunya.

Perempuan itu mengenakan pakaian linen kasar, tubuhnya berdebu, dan meski pakaiannya rapi, kemiskinan tetap tak bisa disembunyikan dari penampilannya. Para gadis di belakangnya bahkan tampak lebih memprihatinkan—masing-masing sangat kurus, berwajah pucat kekuningan, dengan pipi cekung dalam, namun mereka tetap berebut bekerja dengan penuh semangat.

Li He tak dapat menahan desah napas lembut saat menyaksikan pemandangan itu.

Perempuan itu tampaknya menyadari sesuatu. Ia melihat bocah kecil, lemah, sedang bersandar di jendela. Dengan nada setengah khawatir dan setengah mengomel, ia berkata,
“Kau ini anak, jangan berjemur seperti itu. Matahari sedang terik, nanti kau pusing. Cepatlah berbaring di tempat tidur.”

Walaupun terdengar seperti teguran, ucapannya mengandung kelembutan yang sulit disembunyikan.

Mendengar hal itu, Li He secara naluriah tersenyum lebar kepada Perempuan tersebut dan patuh menjawab,
“Aku tahu, Ibu.”
Setelah berkata begitu, ia pun berbaring.

Melihatnya menurut, Perempuan itu ikut tenang. Ia meninggalkan gadis bungsu untuk bekerja di halaman sekaligus mengawasi si bocah, lalu membawa gadis-gadis lainnya pergi, masing-masing menggendong keranjang bambu.

Li He mendengarkan suara-suara dari halaman. Setelah semuanya hening, ia bangkit lagi dan bersandar pada jendela.

Gadis yang tinggal di halaman tampak berusia delapan atau sembilan tahun. Ia duduk di atas batu, dengan tekun memilin tanaman dari keranjang bambunya menjadi serabut tipis, lalu menggulungnya pada sebuah tongkat kayu di tangannya.

Gadis itu begitu fokus bekerja hingga tidak menyadari bahwa Li He diam-diam duduk lagi.

Li He memperhatikan gadis itu dengan cermat; jari-jarinya terus bergerak lincah, ringan, dan cepat. Ia tahu apa yang sedang dikerjakan si gadis. Ketika masih kecil, ia pernah membantu neneknya memilin tali rami. Neneknya akan memakai tali itu untuk menjahit tampah, lalu menjual hasilnya di pasar seharga beberapa yuan masing-masing. Setelah mendapat uang, neneknya selalu memberinya satu yuan sebagai uang jajan, dan ia akan berlari bahagia ke toko kelontong untuk membeli permen.

Mengenang masa lalu, hati Li He yang sebelumnya seperti abu mati, sedikit bergetar kembali.

Li He masih belum tahu di mana ia berada sekarang. Usianya, tinggi badannya, bahkan jenis kelaminnya semuanya berbeda.

Kehidupan sebelumnya—kalau itu bisa disebut kehidupan sebelumnya—ia jelas seorang mahasiswi, sudah satu tahun lulus, berada dalam masa muda terbaiknya. Latar belakang keluarganya biasa saja, penampilannya biasa, universitasnya biasa, jurusannya biasa, dan pekerjaannya pun biasa. Satu-satunya hobinya adalah membaca berbagai buku, dan setelah lulus, ketika waktunya tidak banyak, ia menikmati menonton video-video singkat bertema humaniora.

Hidupnya hambar dan datar seperti air putih, hubungannya dengan keluarga juga tidak begitu erat; ia bahkan jarang menelepon rumah.

Siapa sangka orang se-biasa itu bisa mengalami peristiwa penyeberangan dunia? Ia jelas tertidur saat lembur di kantor, dan ketika bangun, ia telah menjadi seorang anak kecil yang terbaring lemah di ranjang, hampir tidak bisa bangun.

Mengingat hal itu, Li He tak tahan meraba bagian belakang kepalanya. Saat ia menyeberang, tubuh ini sedang sekarat di tempat tidur. Li He menduga pemilik tubuh asli sudah meninggal, kalau tidak, ia tak mungkin menempati tubuh itu.

Li He memikirkan dengan muram bahwa ia mungkin benar-benar mati karena kelelahan kerja di kantor. Untungnya ia meninggal di kantor, sehingga keluarganya bisa mendapatkan santunan. Ia juga memiliki seorang adik laki-laki, jadi ia tidak perlu terlalu khawatir tentang masa tua orang tuanya.

Mengingat kedua orang tuanya di dunia modern, Li He menahan rasa pahit di tenggorokannya. Pada awalnya, ia tidak seoptimis ini. Ia sering menangis sampai tertidur, tetapi masalahnya tidak juga berubah, jadi ia menyerah. Semua sudah tidak dapat diubah; ia hanya bisa menatap ke depan dan membiarkan waktu menyembuhkan luka.

Li He mengedipkan mata, menahan air yang hampir tumpah. Saat pertama datang, ia sangat berhati-hati, takut dianggap monster dan dibakar. Ia tak berani berkata sepatah kata pun di siang hari dan hanya menangis diam-diam pada malam hari. Hal ini membuat seluruh keluarga murung dan sedih, bahkan beberapa kali terjadi pertengkaran keluarga.

Karena setiap pertengkaran selalu diiringi caci maki, akhirnya Li He dapat memahami keadaan pemilik tubuh asli.

Pertengkaran tidak pernah terjadi di kamarnya, tetapi suaranya terdengar jelas dari halaman.

Mungkin karena sisa ingatan pemilik tubuh asli, ia dapat memahami dialek setempat dengan lancar. Dari situlah ia mengetahui penyebab lukanya dan siapa orang yang selalu menangis setiap melihatnya.

Ternyata pemilik tubuh asli didorong oleh putra bungsu Anak Sulung, dan kepalanya terbentur batu hingga akhirnya meninggal. Putra bungsu Anak Sulung itu satu atau dua tahun lebih tua darinya, sehingga pemilik tubuh asli tidak sempat mempertahankan diri.

Bermain kasar antar anak bisa berakibat fatal. Kedua keluarga tidak bisa menyelesaikan masalah, dan Ayah serta Ibu dari keluarga besar itu selalu memihak cabang pertama, sehingga tidak pernah diberi penjelasan, membuat Ibu pemilik tubuh asli menangis dan ribut setiap hari.

Awalnya, mereka bahkan tidak berencana mengobatinya, karena tampaknya ia tidak akan bertahan. Namun Ayah dan Ibu pemilik tubuh asli tidak menyerah, mereka mengundang tetua marga, sehingga Ayah dan Ibu keluarga besar itu mau mengeluarkan uang perak. Meski begitu, tetap tidak bisa menyelamatkan anak malang itu—memberi kesempatan bagi seorang pegawai kantor yang mati karena kelelahan untuk terlahir kembali dalam tubuh ini.

Seharusnya mereka bahagia karena anaknya sembuh, tetapi sikap Li He yang hati-hati dan enggan berbicara justru memberi pukulan baru bagi hati Ayah dan Ibunya.

Di tengah berbagai pertengkaran, Ibu pemilik tubuh asli akhirnya memperoleh satu hak istimewa: ia tidak perlu lagi bekerja di ladang dan boleh tinggal di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, sekaligus merawat anaknya.

Setelah kejadian itu, cabang pertama dan cabang ketiga benar-benar bersitegang. Meski tinggal di bawah satu atap, hubungan mereka lebih buruk daripada orang asing.

Walaupun Li He telah terlahir kembali, marganya tetap Li. Ia sudah berada di sini cukup lama untuk memahami urusan keluarga secara umum. Awalnya ia masih berpikir tentang kemungkinan kembali ke dunia modern, tetapi ia adalah orang yang penakut dan tidak berani mengambil risiko. Ayah, Ibu, dan ketiga kakak perempuannya begitu tulus menyayanginya, sehingga ia memilih menerima takdir.

Gadis yang bekerja di halaman tadi adalah Kakak Keempatnya, anak keempat dalam keluarga. Setelah Li He mulai berbicara, ia pun memanggilnya Kakak Keempat.

Li He memandang Kakak Keempatnya yang sedang bekerja keras dan menggigit bibir. Dari apa yang ia lihat selama beberapa hari ini, keluarganya benar-benar kacau.

Ayahnya entah memiliki nama atau tidak; orang yang datang dan pergi hanya memanggilnya Li San, dan memanggil Ibunya dengan sebutan Wang. Ia memiliki tiga kakak perempuan kandung; ia adalah anak bungsu. Kakek dan nenek dari pihak ayah memiliki tiga putra; kini hanya Anak Sulung dan ayahnyalah yang tinggal melayani mereka. Paman kedua tinggal di kota, sudah menikah dan punya anak, tetapi hanya memiliki seorang putri. Ia pulang setiap sepuluh hari atau lebih, namun selalu membawa banyak barang dan selalu menjenguk Li He, memberinya dua permen. Ia tampak cerdas dan pandai.

Anak Sulung memiliki dua anak laki-laki, keduanya tampaknya tidak memiliki nama, hanya dipanggil Anak Sulung dan Erlang. Ibunya juga biasa memanggil Li He sebagai Anak Ketiga. Anak yang bermasalah dengannya adalah putra bungsu Anak Sulung, yaitu Erlang. Li He pernah melihatnya saat melamun di jendela. Anak itu sepertinya sudah diperingatkan atau ketakutan, karena setiap kali melihat Li He, ia langsung kabur, seolah sedang dikejar serigala.

Setiap kali Li He melihat sosoknya yang kotor dan penakut, ia merasa jengkel. Betapa tidak sepadan, pikirnya, pemilik tubuh asli meninggal karena anak seperti itu.

Kakek-nenek dari pihak ayah—yang kini menjadi kakek-neneknya juga—adalah petani biasa, tetapi sangat memihak keluarga Anak Sulung. Istri Anak Sulung juga bukan orang yang mudah. Li He pernah beberapa kali melihatnya berkata sinis kepada Ibunya di halaman, bahkan memutar bola mata saat melihat Li He bersandar di jendela.

Setiap kali melihat perilakunya, bagian belakang kepala Li He terasa nyeri samar.

Perempuan ini benar-benar tidak merasa bersalah.

Sebelum kelahirannya kembali, meski ia merasa ikatan keluarganya tipis, setidaknya struktur keluarganya sederhana dan tidak ada urusan menjengkelkan seperti ini. Kini, tiba-tiba dihadapkan pada begitu banyak kerabat yang menyebalkan, ia merasa sesak napas.

Li He mengamati selama berhari-hari dan mengetahui bahwa selain keluarga paman kedua, keluarganya semuanya benar-benar petani. Ia tidak paham musim tanam, tetapi karena pernah tinggal di desa saat kecil dan beberapa kali membantu di ladang, ia dapat merasakan bahwa saat ini seharusnya tidak terlalu sibuk, kalau tidak, ketiga kakaknya tidak mungkin berada di rumah membantu Ibu.

Ia teringat ketika baru sembuh dan meminta Ayah memindahkan tempat tidurnya ke dekat jendela, ia melihat ketiga kakak perempuannya dan para orang dewasa berangkat bekerja dengan cangkul. Baru beberapa hari terakhir keadaan menjadi lebih tenang.

Li He bersandar di jendela, memikirkan berbagai hal, kemudian merasa mengantuk. Ia pun berbaring, menutupi kepalanya, dan kembali tidur.




Thursday, November 20, 2025

The Prostitute in New Tork


🌙 The Prostitute in New York 🌙

New York doesn’t shine for her.
It only flickers—
like a dying bulb in a hallway
no one walks through anymore.

She moves beneath the rain,
letting it wash the names
men have called her,
the ones that cling
stronger than perfume.

Her body is a map
of places she wishes
she could forget—
hotel rooms with peeling wallpaper,
sheets that smell like strangers,
mirrors that reflect a woman
she no longer recognizes.

Every night she tells herself,
just one more hour,
just one more customer,
just one more lie to survive.

But the streets listen
to the tremble in her breath.
Even the city,
so cruel and brilliant,
seems to turn away
from the ache in her eyes.

She keeps a photo in her coat—
a girl she used to be,
smiling beside a window
in a small, quiet home
where hope was still possible.

Sometimes she presses it
to her chest,
pretending her heart
still remembers how to beat
for something other than survival.

Men touch her,
but no one holds her.
They pay for her body,
but no one pays
for the pieces of her soul
that fall away each night
onto cold sidewalks.

And when dawn stains the sky
a pale, exhausted blue,
she whispers to the city:

“If anyone cares…
I am still here.”

But the sun rises
without answering,
and New York remains
a cathedral of loneliness—
where she kneels,
night after night,
praying for a salvation
that never comes.



Hilangnya Sebuah Harapan bag. 5

Bagian 5: Emosi yang Akhirnya Meledak

Hujan turun deras malam itu. Kota kecil yang biasanya tenang berubah menjadi kabur oleh air yang menampar tanah. Dara berdiri di balkon rumahnya dengan tangan gemetar. Sejak pertemuan di kafe, pikirannya tidak pernah berhenti memutar ulang setiap kata, setiap tatapan, setiap luka yang kembali terbuka.

Raka kembali.
Juno terluka.
Dara terjepit di tengah pusaran perasaan yang tidak ia harapkan.

Ia menunduk. Air hujan bercampur dengan air matanya.

“Kenapa semuanya harus kembali berantakan?” bisiknya.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat dadanya semakin menegang.

Raka. Lagi.

Raka:
Aku di depan rumahmu.

Dara tersentak. Ia buru-buru turun ke bawah, membuka pintu—dan benar, Raka berdiri di bawah hujan tanpa payung, wajahnya pucat dan kacau.

“Kamu…” Dara ternganga. “Kenapa datang begini?”

Raka tersenyum pahit. “Karena aku nggak mau kamu menjauh. Aku nggak rela kamu diambil orang begitu saja, Dar.”

Dara merasakan ledakan kecil di dadanya. “Bukan ‘diambil’, Rak. Kamu yang pergi. Kamu yang meninggalkan aku.”

“Aku salah,” suara Raka pecah. “Tapi aku mau memperbaiki semuanya. Aku nggak bisa tidur sejak kamu bilang kamu dekat sama Juno.”

Tatapannya berubah gelap. “Apa kamu benar-benar suka sama dia?”

Dara menegang. “Aku… nggak tahu. Aku bingung.”

“Bingung?” Raka melangkah lebih dekat. “Kita bersama bertahun-tahun, Dar. Dan kamu bilang bingung karena seseorang yang baru muncul setelah aku pergi?”

Kalimat itu menusuk Dara seperti jarum.

“Aku bukan milik siapa pun,” kata Dara dengan suara gemetar. “Dan kamu nggak berhak menuntut apa-apa.”

Raka tertawa kecil, pahit. “Jadi kamu pilih dia?”

Dan lagi, Dara tidak menjawab. Diamnya justru membuat Raka semakin tersulut.

“Tuhan…” Raka menarik rambutnya, frustrasi. “Jadi benar? Kamu beneran jatuh hati sama dia?”

“Rak, tolong—”

“Jangan panggil aku begitu!” Raka membentak tiba-tiba. “Dara, aku kehilangan kamu karena kebodohan. Tapi aku nggak siap kalau kamu pindah ke dia!”

Dara memundurkan diri. Hatinya panas, kepalanya sakit, dan emosinya kacau.

“Kenapa kamu selalu datang ketika aku mulai bisa bernapas lagi?” teriak Dara. “Kenapa? Setelah semua luka yang kamu buat, setelah aku belajar untuk berdiri sendiri lagi… kamu kembali dan berharap semuanya sama?”

Raka terdiam, kehilangan kata-kata.

“Kenapa kamu baru berjuang sekarang?” Dara memukul dadanya sendiri. “Kenapa bukan dulu, saat aku menangis setiap malam menunggu kabar kamu?”

“Dara…” Raka mendekat, mencoba menyentuh tangannya. “Aku minta maaf. Aku cuma—”

“Tidak!” Dara mundur, air matanya mengalir deras. “Kamu datang terlalu terlambat.”

Raka terpukul. “Jadi aku nggak punya kesempatan?”

Dara menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak tahu! Aku betul-betul… nggak tahu.”

Dan saat ia menangis, langkah kaki cepat terdengar dari luar pagar.

Dara menoleh.

Juno.

Juno berdiri basah kuyup di bawah hujan, napasnya seolah habis karena berlari. Wajahnya tegang, matanya liar mencari Dara.

“Dara!” Juno mendekat. “Kamu nggak apa-apa? Aku lihat lampu rumah mati, aku takut kamu pingsan atau—”

Juno berhenti ketika melihat Raka.

Keduanya saling menatap. Hening. Seperti dua badai yang bertemu.

Raka mengangkat dagunya. “Kenapa kamu di sini?”

“Aku khawatir,” jawab Juno dengan rahang mengeras. “Dara sendirian setelah pertengkaran tadi.”

Raka tertawa pendek. “Khawatir? Atau kamu takut aku kembali merebut dia?”

Juno menahan diri sekuat tenaga. “Aku bukan mau rebut apa pun. Aku cuma… peduli.”

“Peduli,” Raka mengulang kata itu sambil mendengus. “Peduli atau memanfaatkan saat aku nggak ada?”

Wajah Juno mengeras. “Kalau aku ingin memanfaatkan, aku sudah melakukannya sejak dulu, waktu dia paling hancur karena kamu.”

“Berhenti!” Dara bersuara keras, suaranya pecah. “Aku… aku nggak kuat dengar ini!”

Ia berjalan masuk ke halaman, memegang kepala, hujan membasahi seluruh tubuhnya. “Aku nggak mau kalian bertengkar karena aku!”

Raka dan Juno terdiam sejenak, tapi tensi di antara mereka semakin menebal seperti awan gelap.

“Dara…” Juno mendekati, tapi Raka menghadang dengan bahu.

“Jangan sentuh dia,” kata Raka dingin.

Juno menatap Raka tajam. “Kamu nggak punya hak mengatur hidupnya.”

“Aku mantannya.”

“Justru itu masalahnya.” Suara Juno rendah, dalam. “Kamu masa lalu.”

Raka mengepalkan tangan. “Dan kamu pikir kamu masa depannya?”

Juno tidak menjawab. Tapi ketegasan di matanya berkata lebih banyak.

Dan di saat itu…

Dara meledak.

“Hentikan!!”

Keduanya terkejut, langkah mereka berhenti.

Dara menangis di tengah hujan, tubuhnya gemetar seperti ingin runtuh.

“Kalian pikir aku tidak tersiksa? Kalian pikir aku senang kalian berdua berebut aku seperti barang?”

Raka menunduk. Juno membeku.

“Aku sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri. Luka dari Raka. Perasaan baru pada Juno. Rasa takut mengulang masa lalu. Rasa bersalah membuat seseorang berharap…”

Suara Dara pecah sepenuhnya.

“…dan kalian berdua hanya menambah beban yang sudah berat ini.”

Juno akhirnya bersuara sangat pelan. “Maaf.”

Raka juga berbisik. “Aku… aku salah.”

Dara mengusap wajahnya. “Aku butuh waktu. Kalian dengar? Aku butuh waktu. Sendirian. Tanpa kalian muncul tiba-tiba. Tanpa tekanan. Tanpa konflik.”

“Dara…” Juno mendekat selangkah. “Aku bisa—”

“Juno.” Dara menatapnya penuh rasa bersalah. “Aku butuh kamu pergi dulu.”

Juno seperti ditusuk. Matanya melembut, tapi ada luka yang dalam. “Kalau itu yang kamu mau… aku pergi.”

Ia mundur beberapa langkah. Hujan menutupi air matanya.

“Jaga diri, Dar,” katanya lirih. “Kalau kamu butuh aku… aku selalu ada.”

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Raka bernapas berat. “Dara, aku—”

“Termasuk kamu, Rak.”

Raka membeku. “Oh…”

Dara menatapnya, mata merah, hati lelah. “Aku nggak bisa apa-apa kalau kamu terus menekan aku begini. Jadi tolong… kasih waktu. Jangan hubungi aku dulu.”

Raka membuka mulut, ingin membantah—tapi tatapan Dara menghentikannya.

Akhirnya, ia hanya berkata pelan, hampir tak terdengar, “Baik.”

Dan ia juga pergi.


Dara berdiri sendirian di halaman rumahnya. Hujan mengguyur tanpa belas kasihan. Tapi rasa di dalam dirinya jauh lebih deras dari hujan mana pun.

Ia akhirnya masuk, menutup pintu perlahan. Rumahnya terasa sepi, tapi untuk pertama kalinya, kesepian itu terasa… perlu.

Ia butuh ruang.
Ia butuh diam.
Ia butuh menemukan dirinya sendiri sebelum memilih siapa pun.

Di balik pintu, Dara berbisik pada dirinya sendiri:

“Cinta bukan cuma tentang siapa yang datang… tapi tentang siapa yang membuatku tidak runtuh.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Dara tidak memilih siapa pun.

Ia memilih dirinya sendiri.



Wednesday, November 19, 2025

Ruang Tanpa Jendela (버창 없는 방)

Ruang Tanpa Jendela (버창 없는 방)


EPISODE 1 — Pintu Ikseon-dong

Hujan turun deras, menciptakan gema kecil di gang sempit Ikseon-dong.
Han Jina, mahasiswi seni 23 tahun, pulang larut setelah shift di kafe.

Di ujung gang, ia melihat pintu kayu tua yang tak pernah ada sebelumnya.
Simbol seperti goresan kuku menghiasi kayunya.

Ketika disentuh, dunia membeku, napas hilang, dan pintu itu terbuka sendiri.
Kegelapan di dalamnya bernapas—dan berbisik:

“Akhirnya… kau kembali.”

EPISODE 2 — Makhluk dari Gelap

Sebuah siluet tinggi kurus muncul dari kegelapan.
Matanya putih polos seperti marmer retak.

“Sudah lama, Jina,” katanya.
“Kau datang padaku ketika dunia menolaknya.”

Jina gemetar. “Aku tidak kenal kau.”

Siluet itu mendekat, suaranya seperti kayu yang patah.
“Kau lupa—karena aku menghapus ingatan itu bersamaan dengan rasa sakitmu.”

Kegelapan di belakangnya menggeliat seperti hidup

EPISODE 3 — Kilasan DaeguJina dipaksa melihat masa kecilnya di Daegu:

— Dirinya kecil, terkunci di kamar gelap.
— Tubuhnya menggigil ketakutan pada ayah yang pemarah.
— Suara lembut dari kegelapan memanggilnya.
— “Kau ingin tenang? Berikan saja tanganmu.”

Dan ia menyentuh bayangan itu.

Jina berteriak ketika ingatan itu menghantam kesadarannya.

EPISODE 4 — Harga Ketenangan

Makhluk itu berkata lembut:

“Karena kesepakatan itu, kau tak pernah merasakan lapar, lelah, atau sakit. Itu hadiahku.”

Jina meraba dadanya yang berdegup kencang.

“Hadiah ada harganya,” lanjut makhluk itu.
“Dan waktumu sudah hampir habis.”

Ia mengulurkan tangan panjang kurus itu ke arah Jina.

EPISODE 5 — Lorong Tanpa Ujung

Kegelapan di balik pintu berubah menjadi lorong panjang, dingin seperti ruang bawah tanah Gwanghwamun.

Bayangan-bayangan bergantungan di dinding seperti lukisan kabur.
Beberapa berbisik, memanggil nama Jina.
Beberapa memohon.
Beberapa menyeringai.

Jina mencoba berlari—tapi lorong memanjang tanpa ujung.

Di belakang, makhluk itu mengejar tanpa suara.

EPISODE 6 — Bayangan yang Terlupakan

Bayangan-bayangan di lorong mulai membentuk wajah-wajah:

— Wajah ibunya yang pernah meninggalkannya.
— Wajah teman sekolah yang pernah membully.
— Wajahnya sendiri… menangis, seperti baru terjaga dari mimpi buruk.

“Hidupmu tenang karena aku menyimpan semua rasa sakitmu di tempat ini,” kata makhluk itu.

Jina baru sadar:
Ruang ini adalah penjara dari seluruh traumanya, terkumpul dan berwujud gelap.

EPISODE 7 — Ruang Tanpa Jendela

Mereka tiba di ruangan besar… benar-benar tanpa jendela.

Dindingnya terbuat dari bayangan padat.
Di tengah ruangan, ada kursi kayu tua.

“Duduklah,” kata makhluk itu. “Di sinilah kau dulu kubentuk ulang. Dan di sinilah kau akan kembali menjadi milikku.”

Jina mundur. “Aku tidak mau!”

Makhluk itu tersenyum lebar, mulutnya menyentuh sampai pipi.

“Kau tak punya pilihan.”

EPISODE 8 — Pengorbanan Rahasia

Terdengar suara langkah dari kegelapan.
Muncul seorang pria—Kang Minwoo, teman kuliah Jina yang diam-diam menyukainya.

Ia tampak pucat, basah oleh air hujan… dan takut.

“Aku melihatmu masuk ke gang itu… aku—aku mengikutimu,” katanya gemetar.

Makhluk itu tertawa.

“Bagus. Sumber waktu tambahan.”

Makhluk itu berusaha meraih Minwoo.

“Jina! Lari!” teriak Minwoo.

Untuk pertama kalinya, Jina merasa ketakutan yang nyata—hal yang dulu hilang darinya.

EPISODE 9 — Pertukaran

Makhluk itu berhasil menangkap Minwoo dengan tangan panjangnya.

“Berikan aku dia,” kata makhluk itu. “Dan kau bebas.”

Jina membeku.
Minwoo menatapnya dengan mata memohon.
Suara bayangan-bayangan di dinding bergema:

“Tukar dia… tukar dia… kau akan bebas…”

Namun Jina tiba-tiba teringat masa kecilnya—saat ia sendiri memohon bantuan dan tak ada yang datang.

“Aku tidak akan menyerahkan siapapun lagi!” teriak Jina.

Ia meraih tangan Minwoo dan menariknya sekuat tenaga.

Makhluk itu mengaum, dan ruangan mulai retak seperti kaca pecah.

EPISODE 10 — Pintu yang Masih Menunggu

Jina dan Minwoo berlari ke lorong yang runtuh.
Pintu di ujung tampak terbuka sedikit, seperti memberi jalan keluar.

Makhluk itu berteriak:
“Kau akan kembali! Ketenanganmu akan habis! Kau tak bisa hidup tanpa rasa sakitmu!”

Jina menoleh sekali.

“Aku lebih memilih rasa sakit… daripada hidup di kegelapanmu.”

Ia menutup pintu dengan sisa tenaga.

Gang Ikseon-dong kembali sunyi.
Namun pintu kayu itu kini ada di dinding, tidak hilang.

Kadang, Jina terbangun tengah malam dengan dada sesak… karena ia mulai merasakan lapar, sakit, takut—hal-hal yang dulu menghilang.

Dan kadang… ia mendengar suara dari balik pintu itu:

“Jina… waktumu belum selesai…”

Pintu itu tetap diam.
Namun rasanya seperti menunggu seseorang
—mungkin Jina…
mungkin orang lain—
untuk membukanya lagi.



Hilangnya Sebuah Harapan bag. 4



Ketika Bayangan Itu Kembali

Sudah hampir dua minggu sejak Juno mengatakan bahwa ia akan tetap tinggal. Dua minggu yang terasa seperti membawa Dara sedikit demi sedikit keluar dari kabut panjang dalam hidupnya. Hari-hari mereka sederhana—perjalanan kecil mencari objek foto, makan di warung pinggir jalan, duduk lama di dermaga tanpa perlu banyak bicara.

Namun ketenangan itu retak pada suatu sore yang tampak biasa.

Dara baru saja selesai memotret produk UMKM di sebuah rumah warga ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya membeku.

Raka.

Nama yang selama ini berusaha ia lupakan. Nama yang sudah ia buang bersama liontin bulan sabit ke laut.

Tapi di situ—berkedip dingin di layar—nama itu kembali.

“Dara? Kamu kenapa?” Juno mendekat setelah melihat ekspresi Dara berubah. “Mukamu tiba-tiba pucat.”

Dara menelan ludah. “Aku… ini. Ada pesan.”

“Dari siapa?”

Dara tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan ponselnya.

Juno melihat nama di layar, dan dalam sepersekian detik, ketenangan di wajahnya runtuh. Tatapannya mengeras, tapi ia mengembalikan ponsel itu tanpa berkata apa-apa.

“Buka aja,” kata Juno pelan.

Dara mengingat napas, lalu membuka pesan itu.

Raka:
Dara… aku di kotamu.
Tolong temui aku. Aku butuh bicara.

Dara merasa dadanya membeku dan panas dalam waktu yang sama. Kebingungan melonjak—antara marah, takut, penasaran, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Juno berdiri diam di sampingnya. Tidak menekan. Tidak memaksa. Tapi dari rahangnya yang mengencang, Dara tahu Juno ikut tersayat.

“Dia… minta ketemu,” kata Dara, suaranya bergetar tipis.

“Dan kamu mau?” suara Juno tenang—atau berusaha terlihat tenang.

“Aku… nggak tahu.” Dara memejamkan mata. “Bagian dari diriku ingin pergi saja. Tapi ada bagian lain… yang butuh jawaban.”

Juno menatapnya lama. “Kalau kamu butuh jawaban, aku ngerti.”

Dara membuka mata, menatapnya. “Kamu nggak marah?”

“Marah,” kata Juno jujur. “Tentu saja marah. Tapi aku… juga tahu kamu nggak bisa maju tanpa menyelesaikan belakangmu.”

Ada rasa hangat yang muncul. Tapi juga ada sesuatu lain—takut bahwa ketenangan yang baru dibangun bisa hancur sewaktu-waktu.


Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe kecil dekat alun-alun kota. Dara datang dengan jantung berat seperti batu. Raka sudah duduk di meja pojok, mengenakan jaket jeans dan kemeja putih, tampak lebih kurus dibanding terakhir kali Dara melihatnya.

Ketika ia berdiri, senyumnya tampak rapuh. “Dara…”

Dara menahan napas. Suara itu—akrab tapi menyakitkan.

“Kenapa kamu datang?” tanya Dara langsung. Ia tidak ingin basa-basi.

Raka menghela napas panjang. “Aku… aku salah. Aku sadar itu. Aku pergi tanpa bilang apa-apa, dan aku tahu aku nyakitin kamu. Tapi aku kembali karena aku—”

“Jangan,” potong Dara cepat. “Jangan bilang karena kamu menyesal. Jangan bilang kamu ingin semuanya kembali seperti dulu.”

Raka terdiam. Tatapannya gelisah. “Aku cuma… aku rindu kamu. Dan aku ingin menjelaskan kenapa aku pergi.”

Dara menahan tangis yang tak pernah ia izinkan keluar selama berbulan-bulan. “Kenapa? Kenapa kamu tinggal pergi? Kenapa tidak bilang apa-apa, bahkan satu pesan pun tidak?”

Raka menggenggam ujung meja. “Aku takut, Dar. Takut menghancurkan harapanmu. Takut bilang kalau aku… merasa tidak siap melanjutkan hubungan kita.”

“Lalu kamu memilih pergi begitu saja?” suara Dara meninggi, emosi yang selama ini terkubur akhirnya pecah. “Membiarkan aku menunggu, mencari, berharap?”

“Aku bodoh,” kata Raka, matanya berkaca-kaca. “Setiap hari aku nyesel. Aku lihat postinganmu… dan aku sadar aku sudah kehilangan seseorang yang berarti. Makanya aku ke sini. Aku ingin memperbaiki semua.”

Dara memejamkan mata. Ada bagian dari dirinya yang dulu sangat ingin mendengar kalimat itu. Tapi sekarang—yang ia rasakan justru gemuruh kemarahan dan ketakutan yang bercampur jadi satu.

“Raka…” Dara membuka mata perlahan. “Aku bukan orang yang sama lagi.”

“Aku tahu,” kata Raka cepat. “Tapi kita bisa mulai dari awal.”

Nama itu muncul dalam benak Dara—pelan tapi jelas.

Juno.

Wajahnya ketika menunggu Dara menjawab pesan Raka. Cara ia diam karena tidak ingin mengikat Dara dengan perasaannya sendiri. Sikapnya yang selalu ada tanpa banyak kata.

Dara menggigit bibir. “Ada seseorang di hidupku sekarang.”

Raka menegang. “Siapa?”

“Juno.”

Warna di wajah Raka memudar. “Juno? Asistenmu itu? Pria yang selalu nempel sama kamu?”

“Dia bukan asisten,” kata Dara tegas. “Dia teman. Orang yang… selalu ada waktu aku hancur karena kamu.”

Raka menghela napas tajam. “Jadi kamu pilih dia?”

Pertanyaan itu seperti pisau yang dilempar begitu saja. Tapi sebelum Dara sempat menjawab, sebuah suara muncul dari belakang mereka.

“Kalau kamu mau menyalahkan seseorang, salahkan diri kamu sendiri.”

Dara membalik cepat.

Juno berdiri di pintu kafe.

Ia tidak berteriak. Tidak marah. Tapi matanya tajam—tenang, namun penuh tensi, seperti seseorang yang sedang menahan badai dalam dirinya.

“Juno…” Dara berbisik. “Kenapa kamu ke sini?”

“Aku nggak mau kamu sendirian,” jawab Juno. “Dan aku nggak mau dia menyalahkan kamu seolah kamu yang berubah.”

Raka berdiri, wajahnya keras. “Ini urusan kami berdua.”

“Dara bukan barang,” kata Juno pelan namun tegas. “Dia punya hak menentukan siapa yang boleh bicara di hidupnya.”

Tensi ruangan meningkat. Beberapa pelanggan mulai melirik.

Dara menelan ludah. “Juno… tolong.”

Juno menatapnya sejenak. Tatapannya melunak. “Aku nggak akan ikut campur. Aku cuma… nggak tahan lihat kamu sendirian menghadapi dia.”

Raka mendengus. “Kamu pikir kamu siapa di hidupnya?”

Pertanyaan itu menghantam Juno seperti pukulan. Tapi ia tidak mundur. “Aku orang yang tinggal ketika kamu pergi.”

Kata itu—tinggal—membuat dada Dara bergetar.

Raka memandang Dara. “Benarkah? Kamu lebih memilih dia?”

Dara mengeluarkan napas gemetar. “Raka… aku tidak tahu. Aku masih bingung. Kamu datang begitu tiba-tiba.”

Juno seperti tertusuk kata-kata itu, tapi ia hanya menutup mata sejenak. “Aku ngerti. Kamu masih butuh waktu.”

“Dan kamu,” Raka menatap Juno tajam. “Kamu bikin dia bingung.”

Juno tersenyum pahit. “Kalau kehadiranku bikin kamu panas, berarti kamu masih merasa punya hak atas dia.”

Dara berdiri cepat, tubuhnya gemetar. “Stop! Aku bukan hadiah untuk diperebutkan!”

Keduanya terdiam.

Dara menarik napas panjang, air mata jatuh tanpa ia sadari. “Aku… aku butuh waktu. Aku nggak bisa memutuskan apa pun sekarang. Kamu,” ia menatap Raka. “Aku perlu proses untuk menerima kehadiranmu lagi. Dan kamu,” ia menatap Juno. “Jangan terlalu menjaga aku sampai aku merasa tidak bisa bernapas.”

Juno menunduk, sakit tapi mengerti. “Oke.”

Raka memalingkan wajah, rahangnya mengeras. “Aku tunggu jawabannya, Dara.”

Dara melangkah mundur satu langkah. “Aku nggak janji apa-apa.”


Malam itu, Dara pulang sendirian. Juno menawarkan mengantar, tapi ia menolak. Ia butuh ruang untuk berpikir, untuk bernapas, untuk menenangkan hatinya yang terasa seperti kapal diterjang badai.

Setibanya di rumah, ia duduk di lantai, memeluk lutut, dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia menangis keras—bukan karena patah hati, tapi karena confusion, tension, dan ketakutan untuk melukai seseorang yang ia mulai sayangi.

Di luar sana, dua pria menunggu jawabannya.

Dan Dara tahu satu hal:

Kadang cinta bukan tentang memilih siapa yang membuatmu bahagia —
tapi siapa yang tidak membuatmu hancur lagi.


Sambungan Klik DISINI